Fakta Nasional

Hasil Pemilu Israel: Netanyahu Tak Dapatkan Mayoritas yang Diharapkan

Pemilu legislatif Israel menunjukkan hasil yang tidak menguntungkan bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, meskipun koalisinya meraih suara terbanyak, mereka gagal mencapai mayoritas di parlemen.

P
Panca Akbar Saputra
01 November 2026
19 pembaca
Benjamin Netanyahu (Foto: DW (News)
Benjamin Netanyahu (Foto: DW (News)

Hasil pemilu legislatif di Israel tidak sepenuhnya mendukung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Komite Pemilu Pusat Israel (CEC) mengumumkan bahwa koalisi yang dipimpin Netanyahu berhasil mengungguli kubu oposisi, namun tidak memperoleh mayoritas yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan.

Menurut laporan resmi CEC pada Minggu (1/11/2026), pemilu yang diadakan pada 27 Oktober lalu menunjukkan tingkat partisipasi pemilih mencapai 77,9 persen dari total pemilih yang memenuhi syarat, yaitu sekitar 7,3 juta orang, dengan total 5,716,655 suara yang telah dihitung. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.

Perolehan Kursi di Parlemen

Hasil akhir yang dirilis oleh CEC menunjukkan bahwa koalisi sayap kanan yang dipimpin Netanyahu berhasil meraih 53 kursi dari total 120 kursi di Knesset. Partai Likud yang mendukung Netanyahu tetap menjadi fraksi terbesar dengan 27 kursi. Sementara itu, kubu oposisi yang dipimpin oleh Gadi Eisenkot dari Partai Yashar berhasil memperoleh 48 kursi.

Secara rinci, hasil akhir pemilu menunjukkan perolehan kursi sebagai berikut: Partai Likud 27 kursi, Partai Yashar 21 kursi, B'Yachad 12 kursi, Joint List 11 kursi, Partai Demokrat 8 kursi, Partai Ra'am 8 kursi, Yisrael Beytenu 7 kursi, United Torah Judaism 7 kursi, Otzma Yehudit 7 kursi, Shas 6 kursi, dan Religious Zionism 6 kursi. Koalisi Netanyahu terdiri dari Partai Likud, Shas, United Torah Judaism, Otzma Yehudit, dan Religious Zionism, sedangkan kubu oposisi mencakup Partai Yashar, B'Yachad, Partai Demokrat, dan Yisrael Beytenu.

Tuduhan Kecurangan dan Potensi Koalisi

Meskipun koalisi Netanyahu unggul tipis, mereka masih jauh dari ambang batas 61 kursi yang diperlukan untuk membentuk mayoritas. Di sisi lain, keberhasilan partai-partai Arab Israel, yang terdiri dari Joint List dan Partai Ra'am, meraih total 19 kursi merupakan rekor tertinggi dalam sejarah. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan 10 kursi yang mereka pegang sebelumnya.

Namun, perolehan tersebut tidak cukup untuk membentuk mayoritas yang kuat bagi kubu oposisi yang menolak untuk berkoalisi dengan partai-partai Arab. Tuduhan kecurangan pemilu yang dilontarkan oleh kubu Netanyahu terhadap partai-partai Arab, yang menyebut mereka menerima dana dari Qatar untuk "membeli suara", telah dibantah oleh Joint List dan Ra'am, serta otoritas Qatar. Eisenkot menuduh Netanyahu berusaha "mendelegitimasi" hasil pemilu.

Dalam pernyataan resmi, CEC menolak tuduhan kecurangan tersebut, menegaskan bahwa laporan yang beredar tidak berdasar. Hasil akhir pemilu akan diserahkan kepada Presiden Israel Isaac Herzog pada Rabu (4/11) mendatang, yang kemudian akan berkonsultasi dengan pemimpin partai sebelum menugaskan salah satu dari mereka untuk membentuk pemerintahan.

Ketidakmampuan untuk mencapai mayoritas mutlak dalam parlemen menandakan bahwa negosiasi koalisi mungkin akan berlangsung lama dan rumit. Jika tidak ada pemerintahan baru yang dapat dibentuk, Israel berpotensi menghadapi pemilu baru, seperti yang telah terjadi sebelumnya.

Netanyahu, meskipun meraih kemenangan, kini dihadapkan pada kebuntuan politik. Beberapa skenario yang mungkin terjadi termasuk pembentukan pemerintahan persatuan nasional, koalisi dengan partai-partai Arab, atau pemilu baru jika tidak ada kesepakatan tercapai.

Artikel Terkait