Nilai tukar rupiah saat ini berada di sekitar Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) per Minggu (17/5/2026), menjauhi target nilai tukar yang ditetapkan sebesar Rp 16.500 per dolar AS. Beberapa pakar dan akademisi dari perguruan tinggi memberikan pandangan mengenai dampak yang mungkin timbul jika rupiah terus mengalami pelemahan, yang akan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok
Rijadh Djatu Winardi, seorang akademisi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), menyatakan bahwa melemahnya nilai tukar rupiah dapat menyebabkan harga kebutuhan pokok meningkat. Kenaikan ini disebabkan oleh tingginya harga bahan baku impor yang dihargakan dalam rupiah. Menurut Rijadh, perusahaan yang masih bergantung pada bahan baku impor akan terpaksa menyesuaikan harga barang dalam beberapa bulan ke depan.
Biaya Transportasi dan Kesehatan Meningkat
Dampak dari melemahnya rupiah tidak hanya terbatas pada barang pokok. Penggunaan bahan bakar dan obat-obatan yang diimpor juga dapat menyebabkan peningkatan biaya transportasi dan kesehatan. "Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak," ungkap Rijadh, seperti yang dilansir dari laman UGM.
Beban Subsidi dan Utang yang Meningkat
Ketergantungan pada impor juga dapat meningkatkan beban subsidi energi ketika nilai tukar rupiah melemah. Rijadh menambahkan bahwa pelemahan ini akan membuat nilai pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri dalam rupiah menjadi lebih besar, meskipun jumlahnya tetap sama dalam mata uang dolar. Hal ini berpotensi membatasi pembiayaan untuk sektor-sektor penting lainnya, termasuk pendidikan.
Dr. Hefrizal Handra, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), juga menyoroti bahwa kombinasi peningkatan subsidi dan kompensasi energi, serta kebijakan efisiensi belanja, dapat mendorong pasar untuk menyesuaikan risiko di Indonesia. Ia menilai bahwa fundamental ekonomi dan sektor riil Indonesia masih terjaga, namun situasi ini harus direspons dengan menjaga stabilitas nilai tukar dan kredibilitas fiskal agar tidak berkembang menjadi krisis. "Ini bukan krisis, tetapi jelas ujian yang serius. Jika tekanan global berlanjut tanpa respons kebijakan yang kuat dan kredibel, kondisi ini bisa berkembang menjadi krisis," jelasnya.
Produk Indonesia Menjadi Lebih Kompetitif
Di sisi lain, Eddy Junarsin, dosen FEB UGM, menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah dapat memberikan dampak positif bagi harga produk Indonesia di pasar internasional, sehingga menjadi lebih kompetitif. Hal ini dapat meningkatkan ekspor dan menciptakan lapangan kerja baru. Jika biaya produksi di dalam negeri menjadi lebih murah bagi investor asing, ini dapat memicu masuknya investasi asing. Namun, potensi ini tidak berlaku untuk industri yang bergantung pada impor. "Industri yang bergantung pada impor, seperti energi, pangan impor, serta mesin dan alat berat, justru akan terdampak karena biaya menjadi lebih mahal," kata Eddy.