Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa stimulus ekonomi yang dialokasikan untuk semester II mencapai Rp 26,34 triliun berperan sebagai bantalan untuk mengatasi penurunan konsumsi. Menurutnya, secara keseluruhan, stimulus ini diharapkan dapat mendukung konsumsi rumah tangga, terutama bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah melalui berbagai bantuan seperti pangan, diskon transportasi, dan program vokasi.
Fungsi Stimulus dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi
Rizal menegaskan bahwa meskipun stimulus ini penting, nilainya yang kurang dari 0,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) menjadikannya lebih sebagai bantalan (shock absorber) untuk mencegah perlambatan konsumsi daripada menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Ia mengungkapkan bahwa tantangan yang dihadapi dalam konsumsi saat ini lebih bersifat struktural, di mana kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75 persen, tekanan biaya hidup, dan melambatnya daya beli masyarakat kelas menengah membuat konsumen lebih berhati-hati dalam berbelanja.
Proyeksi Konsumsi Rumah Tangga dan Langkah yang Diperlukan
Indeks Keyakinan Konsumen pada Mei 2026 juga menunjukkan penurunan, dari 123 pada bulan April menjadi 120,9, yang mencerminkan melemahnya optimisme masyarakat. Rizal menyatakan, "Dalam kondisi ini, stimulus membantu menjaga konsumsi dasar, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong lonjakan permintaan." Meskipun demikian, ia memperkirakan bahwa konsumsi rumah tangga pada semester II 2026 akan tetap tumbuh positif dan menjadi penopang utama ekonomi, meski dengan laju yang cenderung moderat.
Faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan konsumsi adalah kondisi pasar kerja, pertumbuhan pendapatan riil, inflasi pangan, dan stabilitas harga energi. Jika tidak ada perbaikan dalam lapangan kerja dan pendapatan, maka ruang untuk pertumbuhan konsumsi akan tetap terbatas. Rizal menekankan bahwa stimulus yang ada saat ini cukup untuk menjaga target pertumbuhan ekonomi agar tidak melemah lebih dalam, tetapi tidak cukup untuk menjadi pengubah permainan (game changer).
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah perlu memperkuat upaya ini dengan menciptakan lapangan kerja, mempercepat investasi, mendukung industri padat karya, dan memberikan dukungan kepada UMKM agar daya beli masyarakat dapat meningkat secara berkelanjutan, bukan hanya bergantung pada bantuan sementara. Rincian dari paket stimulus ekonomi untuk semester II 2026 mencakup insentif transportasi sekitar Rp 2,04 triliun, program magang dan vokasi sekitar Rp 6,26 triliun, serta bantuan pangan sebesar Rp 18,04 triliun.