Tuesday, 12 May 2026
Fakta Pendidikan

Evolusi Manusia: Suku Bajo dan Adaptasi Lingkungan yang Menarik

Evolusi manusia terus berlanjut, terbukti dari kemampuan unik Suku Bajo dalam menyelam dan adaptasi genetik penduduk Tibet di dataran tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa manusia modern masih mewa...

D
Dila Rakasiwi
12 May 2026 4 pembaca
Evolusi Manusia: Suku Bajo dan Adaptasi Lingkungan yang Menarik
detik.com Sumber: detik.com

Jakarta - Manusia telah mengalami proses evolusi sepanjang sejarah untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka. Pertanyaannya, apakah evolusi ini masih berlangsung pada manusia modern saat ini? Para ilmuwan dari Denmark berusaha menjawabnya dengan menganalisis individu-individu yang memiliki kemampuan luar biasa, seperti mereka yang mampu menyelam selama berjam-jam setiap hari.

Secara umum, orang biasa dapat bertahan di bawah air tanpa oksigen selama 20 hingga 30 detik. Sementara itu, penyelam terlatih mampu menahan napas hingga 5 menit, dan rekor dunia mencatat waktu hingga 20 menit.

Suku Bajo: Penyelam Ulung

Orang-orang yang memiliki kemampuan menyelam luar biasa ini berasal dari Suku Bajo (Bajau), yang dapat ditemukan di wilayah Sulawesi Tengah dan Tenggara, Bima NTB, hingga Kalimantan Timur. Penelitian dari University of Copenhagen mengungkap adanya perubahan genetik pada Suku Bajo, yang dikenal sebagai "pengembara laut". Anggota suku ini dapat menyelam hingga kedalaman 60 meter dalam satu tarikan napas.

Peneliti menemukan bahwa limpa anggota Suku Bajo berevolusi menjadi lebih besar dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Ukuran limpa yang besar ini bahkan ditemukan pada individu yang tidak pernah menyelam. Ini menunjukkan bahwa evolusi ini telah diwariskan dari generasi sebelumnya yang aktif menyelam kepada generasi saat ini. Besarnya limpa sangat bermanfaat bagi penyelam, karena membantu memenuhi kebutuhan oksigen saat menahan napas, sehingga mereka bisa menyelam selama berjam-jam setiap harinya.

"Mereka bisa menghabiskan 4 atau 5 jam per hari di bawah air," tulis seorang antropolog evolusioner di Universitas Duke, Herman Pontzer, seperti yang dikutip dari Earth.com.

Evolusi di Dataran Tinggi

Selain Suku Bajo, penelitian juga menunjukkan adanya evolusi pada populasi yang tinggal di dataran tinggi, seperti penduduk di pegunungan Tibet, barat daya China. Di daerah pegunungan, setiap tarikan napas hanya menyediakan sedikit oksigen, yang berdampak pada organ-organ tubuh lainnya seperti ginjal dan sumsum tulang.

Penduduk asli Tibet mampu bertahan di ketinggian berkat gen EPAS1 yang mengatur produksi sel darah merah. Genetik kuno yang ada pada masyarakat Tibet membantu menstabilkan jumlah sel darah merah, sehingga mengurangi risiko penyakit. DNA ini diduga berasal dari perkawinan silang antara spesies Denisovan dan manusia Asia kuno, yang memberikan keuntungan bagi keturunan mereka untuk bertahan hidup di dataran tinggi.

Sementara itu, masyarakat di dataran tinggi Andes yang tidak memiliki DNA kuno tersebut justru menunjukkan adaptasi berbeda, dengan paru-paru dan tulang rusuk yang lebih besar. Wanita hamil yang tinggal di sana juga memiliki aliran darah ke plasenta yang lebih kuat, sehingga bayi yang lahir memiliki berat badan yang lebih sehat meskipun berada di lingkungan dengan kadar oksigen yang rendah.

Kesimpulannya, Suku Bajo dan penduduk Tibet menunjukkan bahwa evolusi manusia tidak berhenti pada zaman purba. Manusia saat ini masih mewarisi hasil evolusi sebagai respons terhadap adaptasi unik terhadap lingkungan mereka. Proses evolusi ini akhirnya menjadi ciri khas yang menambah keragaman manusia di dunia.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Cell pada 19 April 2018 dengan judul "Physiological and Genetic Adaptations to Diving in Sea Nomads."

// Artikel Terkait