Fakta Nasional

Fenomena Surutnya Air Laut di Pesisir Anak Krakatau, BMKG Berikan Penjelasan

Sebuah video yang menunjukkan air laut surut di sekitar Gunung Anak Krakatau menjadi viral di media sosial. BMKG menjelaskan bahwa fenomena ini tidak menandakan adanya tsunami.

S
Stevani Nila Wardana
07 September 2026
12 pembaca
Viral di media sosial air laut di pesisir dekat Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, disebut surut. (Dok. Istimewa)
Viral di media sosial air laut di pesisir dekat Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, disebut surut. (Dok. Istimewa)

Jakarta - Sebuah video yang menunjukkan kondisi air laut surut di pesisir dekat Gunung Anak Krakatau, yang terletak di Selat Sunda, menjadi viral di berbagai platform media sosial. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan bahwa surutnya air laut tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda akan datangnya tsunami.

Menurut laporan yang dilihat pada Senin (7/9/2026), akun Threads @topan_desmon membagikan video yang menunjukkan pesisir yang terlihat surut, seolah-olah menyerupai area pantai, pada hari Minggu (6/9).

Kondisi Perairan di Selat Sunda Masih Normal

Kepala BMKG Wilayah II, Hartanto, menyatakan bahwa hingga saat ini, pihaknya belum menemukan bukti yang mengaitkan surutnya air laut dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Hartanto menjelaskan bahwa pada Minggu (6/9), kondisi perairan di Selat Sunda masih dalam keadaan normal. "BMKG melaporkan bahwa hingga 6 September 2026 pukul 07.30 WIB, pemantauan 20 tide gauge di sekitar Selat Sunda menunjukkan muka laut masih mengikuti pola pasang-surut astronomis normal," ujarnya pada Senin (7/9).

Hartanto juga menambahkan bahwa jaringan seismik tidak mendeteksi adanya sinyal longsoran besar pada tubuh gunung, perpindahan massa bawah laut, atau gempa tektonik yang dapat memicu tsunami. "Karena itu, saat laporan tersebut diterbitkan, tidak terdapat ancaman tsunami akibat erupsi Anak Krakatau. Laporan resmi pemantauan multisensor BMKG," ucapnya.

Imbauan untuk Masyarakat

Meskipun demikian, Hartanto mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada. Ia menyarankan agar jika terjadi surutnya air laut secara tiba-tiba dan tidak sesuai dengan pola pasang-surut, terutama jika disertai suara gemuruh yang kuat atau gelombang yang tidak biasa, masyarakat diminta untuk segera menjauh dari pantai. "Segera menjauh dari pantai menuju tempat tinggi dan ikuti informasi BMKG, PVMBG, serta BPBD. Jadi, unggahan tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai rekaman kondisi lokal, bukan bukti tsunami Anak Krakatau," katanya.

Dengan penjelasan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih memahami fenomena yang terjadi dan tetap waspada terhadap informasi yang beredar.

Artikel Terkait