Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, seorang antropolog dari Indonesia, menilai bahwa pengeluaran untuk aktivitas konsumtif, seperti nongkrong di lokasi mahal dan belanja impulsif, adalah jenis pengeluaran yang paling mungkin untuk dikurangi bagi mereka yang ingin menerapkan gaya hidup hemat atau frugal living.
“Kalau kita mau hidup sederhana, frugal living, ya jelas gaya hidup yang gagasannya adalah konsumsi barang-barang tersier,” ungkap Semiarto pada hari Jumat, 8 Mei 2026. Menurutnya, pengeluaran yang berkaitan dengan kebutuhan tersier merupakan salah satu aspek yang paling mudah untuk ditekan dalam pola konsumsi sehari-hari. Ia memberikan contoh kebiasaan nongkrong di mal, membeli kopi premium, serta makan di restoran mahal sebagai pengeluaran yang dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu.
Prioritas Pengeluaran yang Rasional
Semiarto menjelaskan bahwa menjalani gaya hidup hemat bukan berarti menghindari hiburan atau konsumsi tertentu. Lebih dari itu, hal ini berkaitan dengan kemampuan untuk mengatur prioritas pengeluaran secara rasional. “Kopi sekarang kisaran harganya dari Rp5.000 sampai di atas Rp100.000. Pilihannya itu aja. Hidup disesuaikan,” katanya.
Pengaruh Media Sosial dan Konsumsi Impulsif
Selain fokus pada pengeluaran gaya hidup, Semiarto juga menyoroti fenomena konsumsi impulsif yang sering kali dipicu oleh faktor emosional dan tren di media sosial. “Ada diskon, buruan. Ada flash sale, ayo buruan. Atau sekadar FOMO (takut tertinggal tren) aja, si A, si B, si C sudah beli kok kita enggak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kebiasaan membeli barang karena dorongan tren atau status sosial sering kali membuat konsumsi menjadi tidak esensial. Menurutnya, fanatisme terhadap merek tertentu dan kebiasaan mengganti gadget terlalu cepat juga merupakan pengeluaran yang sebaiknya dikurangi.