Jakarta - Dalam konteks yang semakin menuntut perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja, marwah perguruan tinggi kini menghadapi risiko pergeseran. Hal ini menjadi perhatian dari Pakar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Tuti Budirahayu Dra MSi.
Tuti mengungkapkan bahwa fokus yang sempit pada pemenuhan kebutuhan tenaga kerja di dunia usaha dan industri dapat mengubah kehormatan kampus, menjadikannya sekadar 'pabrik' tenaga kerja. Menurutnya, mahasiswa dibentuk untuk memenuhi kebutuhan industri dan pasar, sehingga mengabaikan peran utama pendidikan dalam membangun karakter. "Jika orientasi pendidikan tinggi dipersempit hanya sebatas untuk mengisi tenaga kerja di sektor usaha dan industri, maka lulusannya dapat dianalogikan seperti 'sekrup-sekrup' dari mesin-mesin kapitalisme," ujarnya dalam keterangannya yang dikutip detikEdu.
Ia juga menambahkan, "Orientasi kerdil pendidikan tinggi semacam itu menjadikan generasi muda tidak memiliki kepekaan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan sosial." Tuti menyayangkan bahwa banyak perguruan tinggi yang terdorong untuk berorientasi kapitalistik demi mencari keuntungan melalui hak otonominya.
Ia menjelaskan bahwa model ini mendorong kampus untuk berlomba-lomba menerima mahasiswa sebanyak mungkin dan hanya membuka jurusan yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Tuti menekankan bahwa pendidikan tinggi seharusnya memiliki makna dan tujuan yang lebih penting bagi pengembangan peradaban suatu bangsa, yang tidak hanya menghasilkan individu yang mampu berpikir kritis, tetapi juga bertindak dengan hati nurani untuk kebaikan umat manusia.
Kondisi komersialisasi ini, menurut Tuti, berdampak negatif pada program studi ilmu dasar, sosial, dan humaniora. Jika perguruan tinggi hanya berfungsi sebagai agen kapitalistik, maka program studi yang mengajarkan pemikiran kritis akan terpinggirkan. "Program studi yang mengajarkan ilmu-ilmu dasar, sosial dan humaniora akan mengalami peminggiran, dan mungkin dapat tergilas oleh kepentingan pasar yang berkarakter seperti juggernaut," paparnya.
Ancaman ini berpotensi mengikis fondasi peradaban dan moral bangsa. Ilmu dasar, sosial, dan humaniora sangat penting untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak merusak kelestarian alam dan ekosistem. Sebagai solusi, Tuti merekomendasikan perlunya keseimbangan dalam pengelolaan program studi di perguruan tinggi.