Analis dari Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah mengalami tekanan akibat eskalasi konflik di Selat Hormuz yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Pada hari Jumat, 8 Mei 2026, rupiah melemah sebanyak 24 poin atau 0,14 persen, sehingga menjadi Rp 17.357 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.333 per dolar AS.
Pergerakan Rupiah dan Sentimen Global
Rully memperkirakan bahwa pada perdagangan hari Jumat, rupiah akan menguat terbatas dalam kisaran Rp 17.320 hingga Rp 17.370 per dolar AS, seiring dengan meredanya tekanan terhadap mata uang domestik. Namun, sentimen global kembali berpengaruh terhadap pergerakan rupiah setelah harga minyak mengalami kenaikan akibat meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
“Faktor global kembali memengaruhi dengan naiknya harga minyak setelah eskalasi ketegangan di Selat Hormuz meningkat akibat aksi balasan militer AS terhadap Iran,” jelas Rully di Jakarta pada hari yang sama.
Reaksi Iran terhadap Serangan AS
Menurut laporan dari Sputnik, Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melanggar gencatan senjata dengan menyerang beberapa wilayah di Iran, termasuk pantai Pelabuhan Khamir, Kota Sirik, Pulau Qeshm, serta dua kapal Iran. Sebagai respons, angkatan bersenjata Iran melakukan serangan terhadap kapal perang AS yang berada di sebelah timur Selat Hormuz dan selatan Pelabuhan Chabahar, yang dilaporkan mengakibatkan kerusakan signifikan.