Tuesday, 12 May 2026
Fakta Ekonomi

IHSG Diperkirakan Meningkat Menuju 9.050, Ini Penyebab dan Risiko yang Mengintai

Pasar modal Indonesia masih memiliki peluang untuk berkembang meskipun di tengah tantangan global yang signifikan. Proyeksi menunjukkan bahwa IHSG dapat mencapai 9.050 poin, namun terdapat risiko yang...

P
Panca Akbar Saputra
12 May 2026 6 pembaca
IHSG Diperkirakan Meningkat Menuju 9.050, Ini Penyebab dan Risiko yang Mengintai

Deputy Head of Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas, Kresna Hutabarat, menyatakan bahwa pasar modal Indonesia tetap memiliki potensi untuk tumbuh meskipun menghadapi tantangan ketidakpastian global yang cukup tinggi. Ia memperkirakan bahwa pada tahun 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa mencapai level 9.000.

Kresna menjelaskan, “Mengenai target IHSG ke depannya, kami masih menjaga target IHSG di 9.050 poin. Tapi kami melihat potensi revisi ke bawah, mengingat adanya potensi tekanan margin akibat dari volatilitas makro yang meningkat dan juga tekanan beban energi ke depannya,” dalam konferensi pers Mandiri Macro dan Market Brief Kuartal II 2026 yang berlangsung secara daring pada Senin (11/5/2026).

Tekanan Makro Eksternal dan Domestik

Ia menambahkan bahwa tekanan makro eksternal sangat berpengaruh terhadap pasar saham. Selain itu, ada banyak faktor domestik yang perlu diperbaiki untuk memastikan kinerja pasar saham yang lebih baik di masa depan. Sepanjang tahun 2026, pasar saham Indonesia mengalami penurunan kinerja, yang terlihat dari IHSG yang terkoreksi sekitar 17 hingga 18 persen secara year to date (ytd). Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi tekanan pasar saham yang cukup berat dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang relatif lebih mampu bertahan di tengah arus modal keluar yang deras.

Kresna juga mengakui bahwa konflik geopolitik serta lonjakan harga energi global memberikan risiko yang signifikan, yang berdampak pada pasar saham dan ekspektasi pertumbuhan bisnis emiten. “Memang kita akui bahwa konflik geopolitik dan tekanan ataupun lonjakan harga energi dunia membawa risiko global, memberikan tekanan makro kepada pasar saham dan juga ekspektasi pertumbuhan bisnis dan emiten pasar saham kita,” ujarnya.

Arus Modal Global dan Risiko Investor

Di sisi lain, penyerapan modal global masih terjadi secara konsisten dari pasar negara maju seperti AS serta pasar saham lainnya yang memiliki emiten di sektor kecerdasan buatan (AI) dan teknologi. Tren ini membuat pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, mengalami tekanan. “Jadi memang banyak arus modal global menuju ke emiten-emiten yang memang mendapatkan pertumbuhan laba dan minat investasi yang besar, terutama di pasar saham di Amerika, Korea, dan juga Taiwan, yang memang bisnis AI dan teknologinya itu mencapai pertumbuhan laba dan juga pendapatan yang superior,” jelasnya.

Kemudian, tren investor yang cenderung menghindari risiko dengan memindahkan dana dari aset berdenominasi rupiah ke dolar AS, termasuk komoditas yang dianggap aman seperti emas, juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pasar modal negara berkembang tertekan oleh aksi jual yang kuat dari investor asing. “Kita mesti perhatikan, dalam 1—2 bulan terakhir, tekanan jual di pasar saham kita yang mengakibatkan performa saham secara year to date kita memang lebih buruk dibandingkan peers,” tambahnya.

Kresna menekankan bahwa ke depannya, risiko terhadap pendapatan emiten, terutama yang terdaftar di IDX 80, harus diperhatikan, mengingat adanya dampak dari kenaikan harga energi dan harga produk turunan petrokimia.

// Artikel Terkait