Nilai tukar rupiah pada Selasa, 11.02 WIB, mengalami penurunan sebesar 60 poin atau 0,34 persen, mencapai Rp 17.728 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.668 per dolar AS.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Ariston Tjendra, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan oleh dampak dari konflik yang terjadi di Timur Tengah. Konflik ini berimbas pada harga minyak mentah dan inflasi di Amerika Serikat. "Ini masih euforia konflik Timur Tengah yang merembet kemana-mana seperti kenaikan harga minyak mentah dan inflasi," ujarnya di Jakarta.
Kenaikan ekspektasi inflasi di AS telah mendorong peningkatan tingkat imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS. Saat ini, yield untuk tenor 2 tahun tercatat di angka 4,105 persen, 10 tahun di 4,631 persen, dan 30 tahun di 5,159 persen, yang merupakan level tertinggi baru untuk tahun ini.
Dampak Terhadap Permintaan Dolar AS
Ariston menambahkan bahwa meningkatnya yield obligasi AS berkontribusi pada penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya, termasuk rupiah. Di dalam negeri, tekanan dari harga minyak mentah yang berada di atas 100 dolar AS per barel telah menyebabkan kenaikan harga kebutuhan masyarakat. Hal ini mengakibatkan peningkatan permintaan dolar AS untuk impor minyak mentah.
Selain itu, bulan ini juga merupakan periode dividen, di mana repatriasi dividen ke luar negeri turut meningkatkan permintaan dolar AS, sehingga semakin menekan nilai tukar rupiah. "Ini lagi bulan dividen, repatriasi dividen keluar negeri yang meningkatkan permintaan dolar AS juga menekan rupiah," ungkap Ariston.