Instrumen investasi syariah, khususnya sukuk, dinilai semakin relevan bagi keluarga muda untuk memperkuat ketahanan keuangan jangka panjang. Investasi ini menawarkan risiko yang relatif rendah dan dapat dimulai dengan nominal kecil.
Guru Besar Akuntansi Syariah Universitas Tazkia, Murniati Mukhlisin, mengungkapkan pentingnya masyarakat untuk mulai membiasakan diri menyisihkan sebagian pendapatan untuk investasi rutin, bukan hanya untuk konsumsi atau tabungan jangka pendek. "Minimal 10 persen pendapatan bulanan dialokasikan untuk investasi. Kalau tidak ada cicilan utang bisa sampai 40 persen," ujarnya dalam Webinar EKSYAR Diaspora dan PPI.
Murniati menambahkan bahwa sukuk merupakan pilihan investasi yang relatif aman karena dijamin oleh negara, sehingga cocok untuk berbagai profil risiko investor, termasuk bagi keluarga muda yang baru mulai belajar mengelola keuangan.
Pemerintah juga akan menawarkan Sukuk Tabungan seri ST016 mulai 8 Mei hingga awal Juni. Instrumen ini memberikan imbal hasil sekitar 6–7 persen dengan pajak yang lebih rendah dibandingkan deposito, serta dapat dibeli mulai dari Rp 1 juta.
Direktur Utama Bank Syariah Matahari, Muhammad Iman Sastra Mihajat, menjelaskan bahwa sukuk negara memiliki tingkat keamanan yang tinggi karena didukung penuh oleh pemerintah. "Sukuk negara itu rating-nya sudah paling atas. Sangat aman karena dijamin negara, jadi kemungkinan uang tidak kembali itu sangat kecil," ujarnya.
Iman juga menyatakan bahwa sukuk cocok bagi masyarakat yang memerlukan pendapatan tetap untuk perencanaan keuangan keluarga. "Saya melihat sukuk sebagai salah satu investasi paling aman. Memang return-nya tidak terlalu tinggi, tetapi rata-rata cukup baik. Pajaknya juga rendah," katanya.
Ia mencatat bahwa tren investor sukuk saat ini mulai didominasi oleh generasi muda, khususnya generasi Z dan milenial. Oleh karena itu, sosialisasi mengenai sukuk perlu dibuat lebih sederhana dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. "Mayoritas investor sukuk justru berasal dari generasi Z dan milenial," ujarnya.
Harri Gemilang, Head of Financial Controlling Airbus Helicopters Arabia, menilai bahwa kepemilikan sukuk negara bagi diaspora maupun keluarga muda bukan hanya soal keuntungan investasi. "Bagi diaspora, memiliki sukuk negara itu seperti naik kelas. Jadi bukan hanya bicara soal tenor dan kupon, tetapi juga soal masa depan keluarga," kata Harri.
Ia juga berpendapat bahwa pendekatan promosi investasi syariah perlu lebih modern agar lebih mudah dipahami oleh generasi muda. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum akrab dengan instrumen keuangan syariah meskipun potensinya besar.