Fakta Pendidikan

Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau Meningkat, Waspadai Abu Vulkanik!

Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan sejak Jumat malam, dengan erupsi yang terus berlanjut hingga Minggu. Para ahli memperingatkan potensi bahaya akibat abu vu...

A
Agustinus Jaya Wiratama
06 September 2026
18 pembaca
F,Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
F,Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Gunung Anak Krakatau (GAK) menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang sangat signifikan sejak malam Jumat (4 September 2026). Hingga Minggu (6 September 2026), erupsi terjadi kembali setelah jeda pada pukul 00.00 WIB, dan dilanjutkan setelah pukul 07.00 WIB. Profesor Riset dan pakar klimatologi di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Erma Yulihastin, mengungkapkan melalui akun X bahwa status GAK masih berada pada Siaga Level III.

"Kode merah (bahaya) untuk penerbangan masih berlaku. Bersiap dan waspada dengan hujan abu yang semakin meluas di wilayah 4 provinsi ini: Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat," tulis Erma dalam akun X pribadinya @EYulihastin pada Minggu (6 September 2026).

Letusan Menembus Lapisan Tropopause

Berdasarkan pengamatan Erma, tebalnya asap dari letusan GAK menunjukkan bahwa letusan telah menembus lapisan tropopause dengan ketinggian kolom yang diperkirakan mencapai 13 km. Ia mengingatkan bahwa letusan yang mencapai lapisan tersebut berpotensi menimbulkan bahaya. Hal ini disebabkan oleh adanya sirkulasi Hadley yang memungkinkan asap vulkanik menyebar hingga ke negara-negara subtropis.

"Semburan kolom hingga tropopause itu bahaya sebab ada sirkulasi Hadley yang memungkinkan apa yang disemburkan di wilayah khatulistiwa bisa ditransfer ke negara-negara subtropis," jelasnya.

Ancaman bagi Sektor Penerbangan

Erma menekankan bahwa erupsi ini merupakan bencana yang berdampak langsung pada ekonomi, terutama pada sektor penerbangan yang harus dihentikan sementara karena status kode merah. "Red code aviation belum dicabut oleh PVMBG. Memang berbahaya untuk penerbangan jika sulfur masuk ke mesin pesawat bisa sebabkan icing pada mesin dan lain-lain," ungkapnya.

Ia juga mengingatkan akan potensi pergerakan awan panas (pirocumulus) yang mengandung sulfuroksida. Berdasarkan simulasi, jika terdapat angin laut yang kuat, abu vulkanik dapat mengarah ke Serang, Banten, dan sekitarnya.

Bahaya Partikel Tajam dari Abu Vulkanik

Pakar Vulkanologi dari Institut Teknologi Sumatera (Itera), Happy Christin Natalia, menjelaskan bahwa erupsi GAK kali ini merupakan tipe Strombolian yang melontarkan lava pijar. Happy mengingatkan agar masyarakat tidak meremehkan abu vulkanik yang jatuh. Menurutnya, karakteristik fisik abu vulkanik jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan debu biasa.

"Kandungan abu vulkanik, umumnya sama dengan unsur yang terdapat dalam magma, seperti silika, aluminium, dan lainnya. Namun, yang paling berbahaya sebenarnya adalah bentuk partikelnya yang berukuran sangat kecil dan bersudut tajam, sehingga dapat mengiritasi atau melukai saluran pernapasan," jelas Happy.

Ia menekankan bahwa meskipun kandungannya terdiri dari silika dan aluminium seperti magma, tekstur mikroskopis yang tajam dapat membahayakan kesehatan manusia jika terhirup tanpa pelindung. "Untuk saat ini, masyarakat diharapkan mengikuti seluruh arahan dari pihak berwajib demi menjaga keselamatan diri dan keluarga. Masyarakat juga perlu terus memantau informasi resmi dari pihak terkait, seperti PVMBG dan BMKG," imbaunya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait