Jakarta - Dalam beberapa tahun terakhir, konser di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Baik musisi lokal maupun internasional semakin sering mengunjungi Tanah Air. Promotor konser pun semakin aktif menghadirkan artis yang menarik bagi kalangan generasi Z.
Menurut Prof Dr Gancar Candra Premananto CI CDM QCRO AIBIZ CCC, seorang dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga, media sosial berperan penting dalam meningkatkan antusiasme generasi Z terhadap konser. Promotor memanfaatkan platform digital untuk menjangkau audiens dengan biaya promosi yang lebih efisien. "Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi penyelenggara konser. Pengguna internet dan media sosial yang tinggi membuat informasi mengenai konser sangat cepat menyebar, terutama di kalangan Generasi Z," ujarnya dalam laman Unair.
Tekanan Sosial dan Keputusan Impulsif
Fenomena fear of missing out (FOMO) menjadi salah satu tekanan sosial yang besar bagi generasi Z untuk mengikuti tren konser. Hal ini sering kali membuat mereka mengambil keputusan konsumsi secara impulsif, termasuk menggunakan layanan paylater untuk membeli tiket konser. "Keputusan menjadi tidak rasional apabila kemampuan membayar tidak sebanding dengan besarnya utang. Kondisi tersebut bahkan dapat memicu kebiasaan menutup utang lama dengan pinjaman baru," jelasnya.
Pentingnya Perencanaan Keuangan
Prof Gancar tidak melarang generasi Z untuk menikmati hiburan, namun ia mengingatkan agar hiburan tidak mengorbankan kondisi finansial mereka. Ia menyarankan agar generasi Z menyusun anggaran bulanan yang baik. "Ia merekomendasikan alokasi sekitar 40 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan sosial, 20 persen untuk hiburan, dan 10 persen untuk tabungan atau investasi." Dengan perencanaan yang matang, seseorang dapat mempersiapkan keinginan untuk menonton konser jauh-jauh hari, sehingga tidak berujung pada keputusan konsumsi yang impulsif.