Fakta Pendidikan

Analisis Ilmiah Terkait Banjir Bandang di Nepal dan Dampak Perubahan Iklim

Banjir bandang yang melanda Nepal baru-baru ini menarik perhatian global, dengan ilmuwan mengaitkan kejadian tersebut dengan faktor-faktor seperti perubahan iklim dan aktivitas gletser. Penelitian men...

P
Panca Akbar Saputra
28 August 2026
30 pembaca
Foto Satelit Before-After Banjir Nepal. Foto: Vantor
Foto Satelit Before-After Banjir Nepal. Foto: Vantor

Peristiwa banjir bandang yang terjadi di Nepal baru-baru ini mengejutkan dunia. Meskipun demikian, sejumlah ilmuwan di luar negeri telah memperkirakan kemungkinan terjadinya bencana tersebut. Laporan awal mengenai gempa bumi di perbatasan Nepal-Tibet menimbulkan dugaan bahwa guncangan tersebut dapat memicu tanah longsor yang berujung pada banjir besar. Namun, US Geological Survey (USGS) menjelaskan bahwa bencana ini disebabkan oleh runtuhnya gletser. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai peran perubahan iklim dalam kejadian tersebut, yang membuat beberapa ilmuwan merasa tidak terlalu terkejut.

Hubungan Banjir dengan Perubahan Iklim

Menurut informasi yang dilansir dari CNN Weather, para ilmuwan menyatakan bahwa keruntuhan gletser dan tanah longsor merupakan fenomena kompleks yang dapat dipicu oleh berbagai faktor, di mana perubahan iklim seringkali berperan. Nepal, yang terletak di kawasan Himalaya, mengalami pemanasan suhu yang cepat. Banyak gletser besar yang mencair dan menjadi tidak stabil seiring dengan meningkatnya suhu global.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kecepatan pencairan es dari gletser di seluruh wilayah Hindu Kush Himalaya, termasuk Nepal, telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 2000. Situasi ini menimbulkan risiko besar bagi hampir dua juta orang yang tinggal di daerah hilir.

Wouter Buytaert, seorang profesor hidrologi di Imperial College London, menyatakan bahwa meskipun penyebab pasti bencana di Nepal masih dalam penelitian, peristiwa ini adalah contoh kejadian yang dapat dipicu oleh perubahan iklim. "Pemanasan global menyebabkan gletser menyusut, sehingga meningkatkan kemungkinan gletser tersebut pecah," ungkap Buytaert.

Reaksi Berantai yang Memicu Banjir

Ahli geologi Daniel Shugar dari University of Calgary, Kanada, menyatakan bahwa saat ini masih terlalu dini untuk mengaitkan secara langsung peristiwa banjir bandang di Nepal dengan perubahan iklim. Meski begitu, seperti yang dilaporkan oleh BBC, Shugar adalah salah satu pakar pertama yang menduga bahwa kejadian ini mungkin disebabkan oleh aktivitas gletser dan penipisan gletser akibat pemanasan global, yang meningkatkan risiko terjadinya tanah longsor.

Simon Cook, seorang ahli geosains di Universitas Dundee, menambahkan bahwa perubahan iklim dapat memberikan dampak signifikan. Ia menjelaskan bahwa timnya telah mengidentifikasi lokasi keruntuhan gletser yang terjadi di dekat puncak Langtang Lirung, sekitar 15 km di sebelah barat lokasi banjir. Cook memperkirakan bahwa gletser tersebut runtuh ke arah barat laut dan bergerak mengikuti aliran sungai.

“Permafrost berfungsi untuk menjaga kestabilan lereng gunung, tetapi kini permafrost tersebut menghangat, mencair, dan mengalami degradasi, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya tanah longsor,” jelasnya. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa runtuhnya gletser bisa terjadi beberapa jam atau hari sebelum banjir.

Mike Searle, profesor ilmu kebumian di Universitas Oxford, menjelaskan bahwa besarnya gelombang material yang terbawa menunjukkan bahwa awalnya terjadi tanah longsor, yang kemudian menyebabkan air tertampung dan membendung sungai, hingga akhirnya bendungan tersebut jebol dan memicu banjir besar. Ia menambahkan bahwa curah hujan atau pencairan es mungkin telah menyebabkan ketidakstabilan pada tanah atau lapisan es, sehingga memicu reaksi berantai.

Para ilmuwan kini berencana untuk menganalisis citra satelit untuk menentukan lokasi pasti terjadinya tanah longsor, apakah ada danau glasial yang tiba-tiba mengosongkan air, serta menganalisis data curah hujan terkini.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait