Fakta Pendidikan

Apakah Kompres Es di Ketiak Efektif untuk Mengatasi Overthinking? Simak Penjelasan Dosen IPB

Kompres es di ketiak menjadi perbincangan hangat di media sosial sebagai cara untuk meredakan kecemasan dan overthinking. Namun, apakah metode ini memiliki dasar medis yang kuat?

U
Ulam Kirana
05 August 2026
45 pembaca
Foto: REUTERS/RULA ROUHANA/Ilustrasi terapi es.
Foto: REUTERS/RULA ROUHANA/Ilustrasi terapi es.

Jakarta - Di media sosial, banyak orang membahas penggunaan kompres es sebagai solusi untuk mengurangi kecemasan dan overthinking. Metode ini melibatkan penempatan kompres es di area ketiak. Namun, apakah metode ini benar-benar terbukti efektif secara medis?

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, menjelaskan bahwa sensasi dingin dapat memberikan efek menenangkan. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa cara ini tidak dapat dijadikan terapi utama dalam mengatasi gangguan kecemasan.

Kompres Dingin dan Respons Tubuh

Kompres dingin dapat membantu menurunkan respons tubuh terhadap stres. Selain itu, sensasi dingin juga dapat berfungsi untuk mengalihkan perhatian melalui teknik grounding. Namun, dr Riati mengingatkan bahwa efek ini bersifat sementara. Ia menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa kompres es dapat mengatasi gangguan kecemasan.

"Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup bahwa kompres es di ketiak merupakan terapi untuk mengatasi gangguan kecemasan atau overthinking," jelasnya dalam laman IPB University, dikutip pada Senin (3/8/2026).

Pentingnya Penanganan Profesional

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak menjadikan kompres dingin sebagai solusi utama. Menurut dr Riati, kecemasan yang berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari memerlukan evaluasi serta penanganan dari tenaga kesehatan.

Lebih lanjut, penggunaan kompres es dalam waktu yang lama dapat menyebabkan iritasi hingga cedera kulit (cold burn). "Efektivitas terapi dingin dalam mengatasi kecemasan masih terbatas," ucapnya.

Untuk menjaga kesehatan mental, dr Riati merekomendasikan masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, seperti rutin berolahraga, cukup tidur, mengurangi konsumsi kafein, dan membatasi paparan informasi yang dapat memicu kecemasan. Jika kecemasan berlangsung selama beberapa minggu dan mengganggu aktivitas, dr Riati menyarankan untuk mencari penanganan profesional.

"Penanganan yang tepat sejak dini akan memberikan hasil yang lebih baik, baik melalui CBT maupun dengan pemberian obat-obatan apabila diperlukan," pesannya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait