Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di Kalimantan, Indonesia. Dampak dari kebakaran ini tidak hanya dirasakan di wilayah tersebut, tetapi juga menjalar ke negara tetangga, Filipina. Metro Manila kini menghadapi masalah asap yang terbawa oleh angin dari kebakaran tersebut.
Pakar Menjelaskan Fenomena Asap
Dr. Gerry Bagtasa, seorang pakar atmosfer dan profesor meteorologi di UP Institute of Environmental Science and Meteorology Filipina, memberikan penjelasan terkait fenomena ini. Ia mengungkapkan bahwa citra satelit menunjukkan adanya titik api aktif di bagian barat dan selatan Kalimantan dalam beberapa hari terakhir, bersamaan dengan pergerakan angin yang mengarahkan asap ke Filipina. "Tampaknya, kebakaran di sekitar Kalimantan memang cukup besar dalam beberapa hari terakhir. Kebetulan pula, terjadi fenomena angin lintas khatulistiwa," jelas Bagtasa.
Ia menambahkan, "Angin bergerak dari belahan bumi selatan melewati wilayah ini (Laut Jawa dan Laut China Selatan), lalu mengarah ke berbagai wilayah di Filipina. Jadi, kita bisa melihat dari citra satelit bahwa asap kebakaran hutan dari Kalimantan itu sampai ke Filipina."
Asap dan Kualitas Udara di Filipina
Bagtasa juga menyatakan bahwa kabut asap yang melanda Filipina saat ini tidak hanya disebabkan oleh emisi dari kendaraan dan pabrik di Metro Manila. Angin kencang biasanya akan menyebarkan polutan lokal, tetapi kombinasi angin yang kuat dan kondisi berkabut menunjukkan adanya polutan yang terbawa dari jarak jauh. Ia menjelaskan bahwa angin muson barat daya, yang dikenal sebagai Habagat, saat ini membawa asap dari Indonesia menuju Filipina. Intensitas angin muson ini juga dipengaruhi oleh dua topan di sebelah timur Taiwan dan selatan Hong Kong, serta fenomena El Nino yang memperkuatnya. "Topan dan El Nino ini menarik angin Habagat dan bersamaan dengan itu, emisi dari kebakaran di Kalimantan," tambahnya.
Menurut Bagtasa, meskipun angin tetap kencang, curah hujan dan kelembapan di sepanjang jalur asap berkurang, sehingga kombinasi angin tersebut membuat asap menyebar tanpa hambatan. Ia juga mencatat kemungkinan adanya interaksi sistem cuaca di utara Filipina, di mana dua sistem cuaca berputar mengelilingi satu sama lain, memperlambat pergerakan sistem dan memperpanjang angin. Asap yang terbawa angin ini dapat meningkatkan kadar partikel debu meskipun polusi lokal juga berkontribusi.
Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam wilayah Manila telah mengeluarkan peringatan bahwa indeks kualitas udara di sana berada dalam kategori "sangat tidak sehat," yang mendorong penggunaan masker N95. Bagtasa memperkirakan bahwa kabut asap di Metro Manila kemungkinan akan bertahan selama sepekan ke depan dan menegaskan bahwa kejadian ini bukanlah yang pertama kalinya. Pada tahun 2015, asap dari Indonesia juga pernah mencapai Filipina. Ia menekankan bahwa kabut asap ini merupakan akibat dari aktivitas manusia, bukan bencana alam.