Fakta Pendidikan

BRIN Tampilkan Inovasi Riset Kuantum di Tengah Kritikan Warganet

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadapi kritik warganet setelah memamerkan produk inovasi sederhana. Namun, mereka menegaskan bahwa riset yang dilakukan jauh lebih kompleks, termasuk dalam...

N
Naufal Akbar
08 August 2026
34 pembaca
Inovasi riset baterai kuantum BRIN. Foto: BRIN
Inovasi riset baterai kuantum BRIN. Foto: BRIN

Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru-baru ini menjadi bahan perbincangan di media sosial setelah memamerkan berbagai hasil inovasi di hadapan Presiden Prabowo Subianto, termasuk sepatu, genteng, dan keripik. Beberapa warganet menilai produk-produk tersebut tidak mencerminkan inovasi yang seharusnya dihasilkan oleh lembaga riset.

Menanggapi kritik tersebut, BRIN menjelaskan bahwa riset yang mereka lakukan tidak terbatas pada produk yang terlihat sederhana. Salah satu contohnya berasal dari Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN yang sedang mengembangkan teknologi berbasis fisika kuantum, termasuk konsep baterai kuantum (quantum battery). Melalui akun Instagram resminya, Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN memperkenalkan riset quantum magnetometry, yaitu teknologi sensor kuantum berbasis berlian dengan NV Center yang dirancang untuk mengukur medan magnet dengan sensitivitas sangat tinggi.

Inovasi Teknologi Kuantum

"Nah, terkait riset futuristik, di BRIN-Q, kami sedang mengembangkan quantum magnetometry, teknologi sensor kuantum berbasis berlian (NV Center) yang mampu mengukur medan magnet dengan sensitivitas sangat tinggi," tulis akun @quantumresearch.id, dikutip Sabtu (8/8/2026).

Baterai kuantum berbeda dari baterai konvensional yang beroperasi melalui reaksi elektrokimia. Jenis baterai ini menyimpan energi dalam keadaan kuantum suatu sistem, seperti atom, molekul, spin, atau sistem cahaya-materi. Dalam fisika kuantum, banyak sistem dapat berinteraksi secara kolektif, yang menghasilkan korelasi dan koherensi.

Pada baterai kuantum yang terdiri dari banyak unit penyimpan energi, unit-unit tersebut dapat diisi secara bersamaan melalui interaksi kolektif. Secara teori, mekanisme ini dapat memberikan "quantum advantage", seperti peningkatan daya pengisian dibandingkan dengan strategi pengisian yang dilakukan secara independen pada setiap unit.

Tantangan dalam Penelitian Baterai Kuantum

Hasil riset berbasis kuantum tidak muncul begitu saja, melainkan bergantung pada sistem, jenis interaksi, protokol pengisian, serta cara sistem berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, penelitian mengenai kuantum ini terus dilakukan oleh peneliti di seluruh dunia dan menjadi topik hangat. Mereka berlomba-lomba mencari model baterai kuantum yang paling optimal.

Sejumlah eksperimen telah mulai mendemonstrasikan prinsip dasar penyimpanan dan pengisian energi pada sistem kuantum, meskipun penelitian ini menghadapi banyak tantangan. Tantangan utama adalah menjaga energi dan keadaan kuantum tetap tersimpan, serta mengurangi decoherence dan disipasi. Baterai kuantum yang ideal adalah yang cepat terisi, dapat bertahan lama, dan ketika diperlukan, ekstraksi energinya mendekati 100%. Oleh karena itu, pencarian model untuk baterai kuantum bukanlah hal yang mudah.

Negara-negara maju aktif melakukan penelitian ini, termasuk Australia yang berada di garis depan eksperimen baterai kuantum. Sementara itu, Indonesia melalui BRIN kini menjadi kontributor penting dalam pencarian model baterai kuantum yang efisien, dengan delapan makalah ilmiah yang telah dipublikasikan mengenai baterai kuantum.

Banyak warganet berspekulasi bahwa BRIN menghabiskan anggaran triliunan hanya untuk membuat sepatu, genteng, dan keripik. Namun, BRIN membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa anggaran sebesar Rp 6 triliun mencakup banyak kebutuhan dan hanya berlaku untuk satu tahun. Sepatu karet yang dihasilkan BRIN menggunakan bahan Smart Rubber, yang tidak bisa diproduksi sembarangan melainkan menggunakan teknologi tinggi milik BRIN.

BRIN berharap masyarakat lebih memperhatikan inovasi Smart Rubber sebagai hasil riset dan inovasi unggulan mereka, ketimbang hanya berfokus pada bentuk fisik produk seperti sepatu atau sandal. Smart Rubber tidak hanya digunakan untuk sepatu, tetapi juga untuk berbagai kebutuhan industri seperti otomotif, penerbangan, dan keamanan. Begitu pula dengan keripik ubi, yang bukan sekadar makanan, tetapi merupakan hasil riset varietas unggul ubi ungu yang telah dikembangkan oleh BRIN.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait