Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi yang signifikan, dengan abu vulkanik yang terdeteksi mencapai ketinggian antara 6 hingga 15 kilometer. Erupsi ini berdampak pada wilayah Banten dan DKI Jakarta, menimbulkan perhatian terhadap daerah-daerah yang berada di sekitarnya.
Gunung Anak Krakatau terletak di dalam kawasan cagar alam yang dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Lampung, dengan luas sekitar 320 hektar dan ketinggian antara 110 hingga 157 mdpl, seperti yang dilaporkan oleh Kementerian ESDM. Pulau ini merupakan area tak berpenghuni yang dilengkapi dengan alat pemantau aktivitas vulkanik yang menggunakan tenaga surya untuk mengirimkan data ke Badan Vulkanologi Lampung.
Jarak Daerah Berpenghuni Terdekat
Pulau Sebesi di Lampung menjadi daerah berpenghuni terdekat dari Gunung Anak Krakatau, berjarak sekitar 15 hingga 20 kilometer. Pulau ini terletak di Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, dengan populasi sekitar 2.000 hingga 2.800 jiwa. Pulau Sebesi juga dikenal sebagai destinasi wisata yang menawarkan pantai-pantai yang indah.
Daerah berpenghuni lainnya yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau adalah Pulau Sangiang, yang berjarak sekitar 49 hingga 50 kilometer dan termasuk dalam wilayah Kabupaten Serang, Banten. Pulau ini memiliki sejarah peninggalan Jepang dan dihuni oleh sekitar 25 hingga 50 kepala keluarga.
Di Lampung, Kecamatan Rajabasa dan Kalianda juga cukup dekat dengan Gunung Anak Krakatau, masing-masing berjarak sekitar 35 hingga 40 kilometer dan 40 hingga 50 kilometer. Sementara itu, wilayah Kecamatan Anyer dan Cinangka di Serang, Banten, berjarak sekitar 42 hingga 45 kilometer dari gunung tersebut.
Potensi Penyebaran Abu Vulkanik
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa kolom abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau telah mencapai ketinggian 6 hingga 15 kilometer, dengan arah sebaran yang mengarah ke timur dan barat. "Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki (6,09 km) ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki (15 km) ke arah barat," jelas Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani.
Menurut Prof Dr Erma Yulihastin, seorang pakar klimatologi, jika kolom abu mencapai 13 km, maka letusan tersebut telah menembus lapisan tropopause, yang merupakan batas antara troposfer dan stratosfer. Letusan yang mencapai lapisan ini dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan penyebaran asap ke negara-negara subtropis melalui sirkulasi Hadley.
BMKG juga melaporkan bahwa sebaran abu vulkanik telah mencapai DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Selain itu, fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik juga tercatat dalam 12 jam terakhir.
BMKG mencatat adanya gangguan geomagnetik yang berkaitan dengan peningkatan sambaran petir vulkanik, meskipun intensitasnya tidak sebesar letusan awal. "BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik," ungkap Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.