Fakta Pendidikan

Dampak Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Terhadap Penerbangan

Erupsi Gunung Anak Krakatau baru-baru ini menyebabkan sejumlah daerah terpapar abu vulkanik, yang berdampak pada penutupan beberapa bandara. Para ahli menjelaskan tentang durasi keberadaan abu vulkani...

A
Agustinus Jaya Wiratama
07 September 2026
12 pembaca
Foto: AFP/Ronald Siagian/Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai Serang pada 5 September 2026.
Foto: AFP/Ronald Siagian/Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mencapai Serang pada 5 September 2026.

Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau telah mengakibatkan beberapa wilayah di Banten, Lampung, dan Jakarta terpapar abu vulkanik. Akibatnya, sejumlah bandara ditutup sementara hingga Senin (7/9/2026). Sejak erupsi yang terjadi pada Jumat (4/9), status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Siaga Level III. Menurut Profesor Riset dan pakar klimatologi di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Dr Erma Yulihastin, situasi ini tergolong dalam kategori merah (bahaya) untuk penerbangan.

"Kode merah (bahaya) untuk penerbangan masih berlaku. Bersiap dan waspada dengan hujan abu yang semakin meluas di wilayah 4 provinsi ini: Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat," tulis Erma dalam akun X pribadinya @EYulihastin.

Penutupan Bandara Berlanjut

Laporan terbaru menyebutkan bahwa penutupan penerbangan di empat bandara, yaitu Soekarno-Hatta, Halim Perdana Kusuma, Radin Inten II, dan Husein Sastranegara, masih berlangsung hingga pukul 18.00 WIB. Pertanyaan yang muncul adalah sampai kapan abu vulkanik ini akan bertahan di atmosfer?

Durasi Keberadaan Abu Vulkanik di Atmosfer

Menurut UCAR Center for Science Education, abu vulkanik yang dikeluarkan oleh gunung berapi terdiri dari partikel besar dan kecil. Partikel abu yang lebih besar cenderung memiliki dampak yang lebih sedikit karena cepat jatuh ke tanah. Namun, partikel abu yang lebih kecil dan ringan dapat bertahan di stratosfer (lapisan kedua atmosfer) selama beberapa jam hingga beberapa hari setelah letusan. Dalam kasus letusan yang sangat besar, abu tersebut bahkan bisa bertahan berbulan-bulan di atmosfer dan menghalangi sinar matahari.

United States Geological Survey (USGS) menyatakan bahwa ketika suatu daerah terpapar hujan abu vulkanik, perjalanan di wilayah tersebut dapat terhambat selama berhari-hari. Dalam sejarah, abu vulkanik telah bertahan lama dan memengaruhi iklim, seperti letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 dan Gunung Tambora pada tahun 1815 di Indonesia. Menurut Massachusetts Institute of Technology (MIT) Climate Portal, letusan Tambora berdampak pada iklim jangka pendek, sehingga tahun 1816 dikenal sebagai 'tahun tanpa musim panas'.

Abu vulkanik dan material lain yang dilepaskan ke atmosfer dapat menyebabkan penurunan suhu. Di Eropa, suhu turun hingga 0,556 °C. Sebuah studi mengenai dampak letusan Gunung Kelud di Jawa Timur pada tahun 2014 menunjukkan bahwa efek abu bisa bertahan selama berbulan-bulan. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Colorado Boulder dengan pengamatan nyata dan simulasi komputer canggih menemukan bahwa abu vulkanik dapat bertahan dalam waktu lama.

"Yang kami temukan dari letusan ini adalah abu vulkanik dapat bertahan dalam waktu lama," jelas Yunqian Zhu, penulis utama studi tersebut dan ilmuwan di Laboratorium Fisika Atmosfer dan Antariksa (LASP) di CU Boulder. "Mereka melihat beberapa partikel besar melayang di atmosfer sebulan setelah letusan. Itu tampak seperti abu," tambah Zhu.

Perbedaan antara Abu Vulkanik dan Abu Biasa

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung silika, yaitu serpihan kaca yang tajam dan berpotensi merusak. Zat ini berbahaya jika terhirup atau kontak dengan mata dan saluran pernapasan. "Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan abu atau debu biasa karena ini mengandung silika yang seperti serpihan kaca yang tajam dan bisa merusak, khususnya pada organ yang terkena, antara lain mata, hidung, mulut, maupun kulit," ungkap Dicky.

Menurut penjelasan USGS, abu vulkanik terdiri dari partikel kecil yang bergerigi dari batuan dan kaca alami. Abu ini merupakan hasil pecahan, bukan hasil pembakaran seperti abu lembut dari kertas atau kayu. British Geological Survey (BSG) menjelaskan bahwa bentuk abu vulkanik adalah serpihan kecil, tajam, dan bersudut, yang membuatnya berbahaya, termasuk untuk pesawat terbang.

World Meteorological Organization (WMO) mengingatkan bahwa abu vulkanik dan gas yang masuk ke mesin pesawat dapat berdampak negatif saat penerbangan. Selain dapat menyebabkan mesin mati, abu juga bisa memicu erosi pada komponen avionik, menyumbat filter dan saluran pipa, serta menurunkan kualitas bahan bakar. Untuk mengatasi bahaya ini, WMO memiliki International Airways Volcano Watch (IAVW) untuk memantau dampak letusan gunung api terhadap dunia penerbangan.

Video: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Jangkau Lampung hingga Jawa Barat.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait