Tuesday, 12 May 2026
Fakta Nasional

Dampak AI Generatif terhadap Pasar Tenaga Kerja: Penemuan Menarik dari Penelitian Harvard

Sebuah studi dari Harvard Business School mengungkapkan bagaimana AI generatif memengaruhi pasar kerja, menunjukkan penurunan permintaan untuk pekerjaan repetitif dan peningkatan untuk pekerjaan yang...

A
Admin Nalarfakta
11 May 2026 6 pembaca
Dampak AI Generatif terhadap Pasar Tenaga Kerja: Penemuan Menarik dari Penelitian Harvard

KOMPAS.com - Penelitian yang dilakukan oleh Harvard Business School memberikan wawasan mendalam mengenai transformasi yang dibawa oleh AI generatif terhadap pasar tenaga kerja. Riset yang berjudul "Displacement or Complementarity? The Labor Market Impact of Generative AI" ini ditulis oleh Profesor Suraj Srinivasan, Wilbur Xinyuan Chen dari Hong Kong University of Science and Technology, serta Saleh Zakerinia dari Ohio State University. Tim peneliti menganalisis data lowongan pekerjaan di Amerika Serikat dari tahun 2019 hingga Maret 2025, mencakup hampir seluruh lowongan yang ada di pasar dengan mengkategorikan lebih dari 19.000 tugas pekerjaan di lebih dari 900 profesi.

Hasil penelitian ini menunjukkan temuan yang mengejutkan. Setelah peluncuran ChatGPT pada November 2022, terdapat penurunan sebesar 13 persen pada lowongan pekerjaan untuk posisi yang banyak melibatkan tugas-tugas terstruktur dan repetitif. Sebaliknya, permintaan untuk pekerjaan yang memerlukan kemampuan analitis, teknis, dan kreatif justru meningkat sebesar 20 persen. Penurunan paling signifikan terjadi di sektor keuangan dan teknologi. Temuan ini menunjukkan bahwa AI generatif tidak hanya menghilangkan pekerjaan, tetapi juga menciptakan permintaan baru untuk posisi yang dapat diperkuat oleh teknologi ini.

Kolaborasi Manusia dan AI dalam Pekerjaan

Para peneliti menemukan bahwa pekerjaan yang memiliki potensi untuk ditingkatkan oleh AI adalah yang menggabungkan tugas otomatis dengan tugas yang masih memerlukan keterlibatan manusia. Profesi seperti mikrobiolog, analis keuangan, dan neuropsikolog klinis termasuk dalam kategori ini. Di bidang keuangan, misalnya, manajer investasi dan analis kini memanfaatkan alat berbasis AI untuk memproses dan mengevaluasi data pasar, namun keputusan akhir tetap diambil oleh manusia.

Di sisi lain, untuk pekerjaan yang rentan terhadap otomasi, jumlah keterampilan yang dibutuhkan dalam lowongan kerja justru mengalami penurunan hingga 7 persen. Sementara itu, untuk pekerjaan yang berpotensi diperkuat oleh AI, muncul permintaan untuk keterampilan baru yang sebelumnya tidak banyak dicari oleh perusahaan.

Keterampilan yang Makin Dicari di Era AI

Berdasarkan hasil penelitian, berikut adalah keterampilan yang semakin dibutuhkan oleh perusahaan untuk pekerjaan yang berpotensi diperkuat oleh AI:

  • Prompt writing: Kemampuan menulis instruksi yang tepat untuk mendapatkan hasil optimal dari alat-alat AI.
  • Literasi AI: Kemampuan memahami dan menggunakan alat-alat AI secara efektif dalam pekerjaan.
  • Kolaborasi manusia dan AI: Kemampuan bekerja berdampingan dengan sistem AI secara produktif dan efisien.
  • Aplikasi AI spesifik bidang: Penguasaan alat AI yang relevan dengan industri atau profesi tertentu.
  • Kemampuan penilaian situasional: Kapasitas membaca konteks dan mengambil keputusan kompleks yang tidak bisa diotomasi mesin.
  • Komunikasi interpersonal: Kemampuan berinteraksi dan membangun hubungan dengan orang lain yang sulit direplikasi oleh AI.

Menanggapi perubahan ini, Profesor Srinivasan merekomendasikan dua langkah utama bagi perusahaan. Pertama, mereka harus berinvestasi dalam program pelatihan ulang bagi karyawan di posisi yang rentan tergantikan, terutama untuk mengembangkan keterampilan yang tidak dapat diotomasi seperti penilaian situasional dan komunikasi interpersonal. Kedua, perusahaan perlu mendorong peningkatan kemampuan AI secara berkelanjutan bagi karyawan di posisi yang dapat diperkuat oleh teknologi ini. Srinivasan menekankan bahwa perusahaan seharusnya memandang AI generatif sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan sekadar alat untuk mengurangi biaya.

Ia juga mengingatkan bahwa penelitian ini berfokus pada dampak jangka pendek di pasar tenaga kerja Amerika Serikat, sehingga dampak jangka panjang maupun efeknya di wilayah lain masih belum dapat dipastikan, sebagaimana dirangkum oleh KompasTekno dari Harvard Business School.

// Artikel Terkait