Wilang, yang baru saja menyelesaikan studinya di Universitas Gadjah Mada (UGM), merasa lega setelah berhasil mendapatkan gelar sarjana dari Program Studi Biologi. Ia juga mencatatkan diri sebagai wisudawan termuda, menyelesaikan pendidikan pada usia 19 tahun 9 bulan 20 hari. Rata-rata usia dari 3.193 lulusan program sarjana di UGM adalah 22 tahun 6 bulan 15 hari.
Pendidikan Sejak Dini
Menjadi lulusan termuda bukanlah hal yang asing bagi Wilang. Ia mengungkapkan bahwa ia memulai pendidikan formalnya lebih awal dibandingkan teman-temannya, termasuk mengikuti kelas percepatan. "Saya masuk SD usianya belum genap lima tahun. Saya juga menyelesaikan kelas 4 dan 5 dalam satu tahun berdasarkan rekomendasi guru," ujarnya.
Selama menempuh pendidikan di UGM, usia yang lebih muda tidak menjadi kendala berarti. Meskipun sesekali ia mendapatkan lelucon dari teman-temannya, Wilang merasa tidak pernah diremehkan dalam lingkungan akademik. "Teman-teman saya selalu panggil saya orang termuda di dunia, tapi itu cuma percandaan," kenangnya.
Tantangan yang Dihadapi
Wilang mengakui bahwa tantangan yang paling besar ia hadapi bukan saat kuliah, melainkan ketika masih di bangku sekolah. Ia sering kali terhalang untuk mengikuti kegiatan di luar sekolah karena peraturan usia. Salah satu contohnya adalah ketika ia ingin mendaftar beasiswa sekolah menengah atas di luar negeri pada usia 12 tahun, sementara batas usia minimal pendaftar adalah 15 tahun. Namun, cita-citanya untuk belajar di luar negeri akhirnya terwujud saat ia berkuliah di UGM.
Selama semester lima hingga enam, Wilang mengikuti program pertukaran pelajar di Yamagata University, Jepang. Di sana, ia melakukan penelitian di laboratorium yang bernama Laboratory of Forest Products, dengan fokus pada tanaman Phellodendron amurense Rupr., yang dikenal sebagai Amur cork tree. Tanaman ini telah digunakan dalam pengobatan tradisional di Tiongkok dan Jepang. Penelitian tersebut dituangkan dalam skripsi berjudul "Profil Metabolit Sekunder dan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Batang dan Daun Phellodendron amurense Rupr."
Setelah kembali ke Indonesia, Wilang melanjutkan penulisan skripsinya. Ia mengaku mendapatkan banyak dukungan dari teman-teman angkatannya dalam menyelesaikan tugas akademik dan persiapan ujian. "Saya sangat menghargai dukungan dari dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Biologi. Dari berangkat, selama di Jepang, sampai pulang, semuanya didukung," tuturnya.
Wilang juga menekankan pentingnya bagi mahasiswa untuk aktif mencari berbagai kesempatan yang ada selama kuliah. Ia menyatakan bahwa UGM menawarkan banyak program, beasiswa, dan kegiatan yang dapat diikuti oleh setiap mahasiswa. "Emang kita harus lebih aktif. UGM sangat mendukung kalau kita mau menjadikan UGM sebagai salah satu langkah menuju keberhasilan," ujarnya.