Video yang menunjukkan antrean orang tua di Gayam, Yogyakarta, untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke bimbingan belajar (bimbel) menjadi viral. Antusiasme yang tinggi ini mencerminkan ambisi orang tua dalam mendukung proses pendidikan anak-anak mereka. Menurut laporan UNICEF, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak dapat meningkatkan kesejahteraan dan kepercayaan diri anak. Keterlibatan ini, baik di rumah maupun di sekolah, berpengaruh signifikan terhadap kemajuan akademik anak.
Studi yang diterbitkan oleh Eva M Pomerantz dan rekan-rekannya di Illinois menunjukkan bahwa bukan hanya seberapa banyak orang tua terlibat dalam pendidikan anak, tetapi juga seberapa tepat keterlibatan tersebut sesuai dengan kebutuhan anak. Keterlibatan orang tua dalam memilih tempat bimbel dapat mendukung perkembangan pembelajaran anak. Namun, jika orang tua terlalu mengontrol anak untuk mengikuti keinginan mereka, hal ini bisa mengganggu kompetensi anak.
Pengaruh Sistem Pendidikan Bayangan
Fenomena ini juga pernah dibahas dalam laporan UNESCO mengenai sistem pendidikan bayangan yang berkembang di Asia. Dalam sistem ini, orang tua merasa perlu berinvestasi dalam bimbingan atau tutoring karena banyak orang lain yang melakukannya. Contoh nyata dapat dilihat di Korea Selatan, di mana laporan Financial Times menyebutkan bahwa 47 persen anak di bawah usia enam tahun sudah mengikuti bimbel.
Pentingnya Keterlibatan Orang Tua yang Seimbang
Dr. Agustinus Subarsono, seorang pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa keberhasilan anak dipengaruhi oleh kualitas pendidikan yang diterima sejak pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi. Ia menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, terutama saat anak masih kecil, di mana keterlibatan orang tua hampir mencapai 100 persen. Namun, saat anak memasuki sekolah menengah, keterlibatan tersebut cenderung berkurang.
“Ketika anak masuk SMP, intervensi orang tua semakin berkurang karena anak sudah memiliki pengetahuan dan nilai meski terbatas. Begitu juga saat SMA, anak dapat menentukan pilihan sendiri dengan pertimbangan minimal dari orang tua,” ungkap Subarsono.
Memasuki perguruan tinggi, anak memiliki otonomi lebih besar dalam memilih bidang studi yang diminati, dan orang tua sebaiknya berperan sebagai fasilitator. Pada fase ini, orang tua disarankan untuk tidak terlalu ikut campur. Jika anak sudah memiliki pilihan namun orang tua memaksakan jurusan tertentu, hal ini dapat berdampak negatif bagi anak.
“Setiap anak memiliki pengetahuan, karakter, dan talenta yang berbeda. Mereka juga memiliki mimpi yang berbeda dari mimpi orang tua. Berikan ruang bagi anak untuk mengejar mimpinya sendiri, jangan paksa mereka mengejar mimpi orang tua,” tegasnya.
Menanggapi fenomena banyaknya orang tua yang berlomba memasukkan anak ke bimbel, Subarsono mencatat adanya masalah kepercayaan orang tua terhadap pendidikan di sekolah. Banyak siswa SMA yang mengikuti bimbel untuk persiapan masuk perguruan tinggi negeri, menunjukkan ketidakpercayaan bahwa pembelajaran di sekolah sudah cukup untuk mencapai tujuan mereka.
Di sisi lain, kondisi guru yang sering dibebani untuk menyelesaikan materi juga menjadi faktor. Akibatnya, muncul keyakinan bahwa anak akan lebih siap menghadapi tes masuk perguruan tinggi setelah mengikuti latihan soal di bimbel. Selain itu, obsesi orang tua agar anaknya dapat masuk ke kampus tertentu juga sering terjadi.
“Obsesi yang berlebihan dari orang tua untuk mencetak anak-anaknya sesuai dengan mimpi mereka sering kali mengabaikan mimpi anak itu sendiri. Anak menjadi obyek pemenuhan ambisi orang tua,” jelas Subarsono.
Dia menambahkan bahwa banyak orang tua yang menganggap pendidikan formal di perguruan tinggi sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Padahal, di era digital dan kecerdasan buatan saat ini, ada banyak cara untuk mencapai kesuksesan, termasuk melalui pelatihan atau belajar mandiri.
Subarsono berpendapat bahwa tugas orang tua seharusnya adalah mendengarkan kebutuhan anak dan menjadi teman berdiskusi. Orang tua juga perlu memberikan kesempatan untuk mengikuti kursus, membaca, berolahraga, seni, atau kegiatan lainnya, bukan hanya fokus pada bimbel.
“Tugas lain orang tua adalah mendukung kemandirian anak. Semakin dewasa, anak perlu diberi ruang untuk mengambil keputusan pendidikan, dan orang tua berperan sebagai penasihat serta pendamping,” pungkasnya.
Terakhir, orang tua perlu berkolaborasi dengan sekolah atau kampus untuk memahami perkembangan akademik, perilaku, minat, dan masalah yang dihadapi anak. Jangan mengandalkan sepenuhnya keberhasilan anak pada sekolah saja.