Fakta Nasional

Gempa M 7,7 di NTT Picu Tsunami dan Getaran Jauh Hingga Sulawesi Selatan

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, yang memicu tsunami dan dirasakan hingga Sulawesi Selatan. BMKG menjelaskan penyebab dan dampak dari gempa ter...

E
Eko Prasetyo
15 August 2026
38 pembaca
Foto: Kerusakan akibat gempa erupsi Gunung Lewotobi, Flores Timur, NTT, Senin (4/11/2024). (Yurgo Purab/detikBali)
Foto: Kerusakan akibat gempa erupsi Gunung Lewotobi, Flores Timur, NTT, Senin (4/11/2024). (Yurgo Purab/detikBali)

Gempa bumi dengan magnitudo 7,7 terjadi di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memicu gelombang tsunami dan getaran yang dirasakan hingga Sulawesi Selatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa pergerakan sesar naik (thrust fault) menjadi penyebab utama guncangan kuat dan potensi tsunami.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan bahwa gempa bumi ini merupakan gempa dangkal dengan kedalaman 15 km yang berasal dari aktivitas Sesar Busur Belakang Flores. "BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak," ungkap Nelly dalam keterangan resmi BMKG pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Detail Lokasi dan Dampak Gempa

Hasil analisis menunjukkan episenter gempa terletak di laut dengan koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur, tepatnya 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT. Gempa ini terjadi pada pukul 04.58 WIB. Getaran yang dihasilkan terasa dalam skala VI MMI (Modified Mercalli Intensity), yang berarti mengejutkan penduduk hingga berlari keluar rumah. Wilayah yang merasakan getaran ini termasuk Wolowae (Kabupaten Nagekeo) dan Kota Bajawa, serta dalam skala V MMI yang membangunkan banyak orang tidur, dirasakan di Kota Ende, Kota Borong, dan Kota Ruteng.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menyampaikan bahwa hingga pukul 07.07 WIB, tercatat 37 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo antara M3,6 hingga M6,2, di mana satu di antaranya dirasakan oleh masyarakat. "Di busur belakang Flores ini terdapat potensi gempa maksimum M 7,8 hingga M 7,9. Berdasarkan catatan sejarah, gempa serupa pernah terjadi pada tahun 1992 dengan kekuatan M7.5 yang menimbulkan kerusakan dan tsunami. Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores," jelas Wijayanto.

Peringatan Tsunami dan Kerusakan yang Terjadi

BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami yang berakhir pada pukul 07.30 WIB. Gelombang tsunami terdeteksi di 10 daerah, termasuk NTT, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Beberapa pengukuran ketinggian gelombang tsunami mencatat: Sikka 0,20 meter, Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, Flores Timur 0,25 meter, dan Labuan Bajo 0,36 meter.

Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, memaparkan hasil pemantauan awal dari Stasiun Geofisika Kupang dan koordinasi dengan BPBD setempat mengenai dampak gempa. Guncangan tersebut merobohkan beberapa bagian tembok rumah sederhana di wilayah Maumere, Manggarai Barat, dan Labuan Bajo, serta merusak fasilitas Pelabuhan Maumere dan bangunan Hotel Jayakarta Bajo. "Tim BMKG mulai hari ini diterjunkan langsung ke lokasi terdampak untuk melakukan survei kerusakan secara menyeluruh," kata Teguh.

BMKG terus memonitor perkembangan gempa susulan dan dinamika tinggi muka laut secara real-time. Mereka menghimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyaring setiap informasi yang beredar agar terhindar dari isu atau hoaks. Selain itu, BMKG juga meminta warga untuk menjauhi serta memeriksa kondisi bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat guncangan gempa, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi susulan.

Artikel Terkait