Pada hari Sabtu, 15 Agustus, pukul 04.58 WIB, Nusa Tenggara Timur diguncang gempa dengan kekuatan 7,7 magnitudo. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa ini disebabkan oleh aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Hasil analisis menunjukkan bahwa episenter gempa terletak di laut dengan koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, sekitar 30 km di timur laut Nagekeo, NTT. Mengingat kekuatan gempa yang tinggi, BMKG sempat mengeluarkan peringatan tsunami yang kemudian dicabut pada pukul 07.30 WIB.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menyatakan, "BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak." Flores Back Arc Thrust adalah sistem patahan yang terbentuk akibat proses subduksi, dan pertemuan lempeng serta patahan aktif ini menyebabkan Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur memiliki banyak sumber gempa.
Mengenal Flores Back Arc Thrust
Flores Back Arc Thrust, yang dikenal juga sebagai Sesar Busur Belakang Flores, adalah sesar aktif yang terletak di dasar Laut Flores, utara Pulau Flores. Berdasarkan jurnal yang ditulis oleh Wahyudi et al, sesar ini membentang dari utara Bali ke arah timur dan terhubung dengan sesar Wetar di utara Pulau Wetar, di bagian barat Laut Banda. Flores Back Arc merupakan sumber aktivitas seismik di wilayah tersebut, dengan catatan 79 gempa bumi berkekuatan lebih dari 6,0 M terjadi antara tahun 1900 hingga 2022, di mana 11 di antaranya menghasilkan tsunami.
Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mencatat bahwa salah satu bencana paling mematikan di Indonesia, yaitu gempa Flores pada tahun 1992, disebabkan oleh aktivitas sesar ini dan menewaskan sekitar 2.500 orang. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan, "Setelah hampir 30 tahun, pelepasan energi besar kembali terjadi di busur belakang Flores."
Gempa Susulan Terus Terjadi
Setelah gempa utama yang terjadi pada pukul 04.00 WIB, BMKG mencatat adanya 37 gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara 3,6 hingga 6,2. Meskipun peringatan tsunami telah dicabut, BMKG terus memantau perkembangan gempa susulan serta dinamika tinggi muka laut secara real-time. Mereka juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan memeriksa kondisi bangunan yang mungkin mengalami kerusakan akibat gempa.