Fakta Pendidikan

Ibrahim Al Abrar: Bocah Boyolali yang Mendapat Penghargaan dari NASA karena Temuan Keamanan Sistem

Ibrahim Al Abrar, seorang siswa kelas 6 SD dari Boyolali, Jawa Tengah, berhasil menarik perhatian NASA setelah melaporkan celah keamanan pada sistem mereka. Pencapaian ini menjadi istimewa mengingat l...

S
Stevani Nila Wardana
18 July 2026
82 pembaca
Ibrahim Al Abra, menunjukkan surat apresiasi dari NASA.Foto: Dok Ibrahim Al Abra
Ibrahim Al Abra, menunjukkan surat apresiasi dari NASA.Foto: Dok Ibrahim Al Abra

Di sebuah desa yang terletak di pinggiran Waduk Kedungombo, Jawa Tengah, sekitar 40 kilometer dari pusat Boyolali, tinggal seorang anak bernama Ibrahim Al Abrar yang kini menjadi sorotan hingga ke Amerika Serikat. Ibra, sapaan akrabnya, adalah siswa kelas 6 di SD Negeri 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, yang berhasil menerima surat penghargaan dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) setelah melaporkan temuan bug atau celah keamanan dalam sistem publik lembaga antariksa tersebut.

Pencapaian ini sangat mengesankan mengingat Ibra berasal dari desa kecil dan tidak belajar di sekolah dengan fasilitas teknologi yang canggih. Ia tumbuh di Desa Genengsari, yang terletak di tepi Waduk Kedungombo, dan mulai mempelajari teknologi secara mandiri sejak masih di bangku sekolah dasar.

Awal Ketertarikan pada Teknologi

Ayah Ibra, Aminudin Salas, yang berusia 36 tahun, menyatakan bahwa putranya mulai tertarik dengan dunia teknologi ketika sering bermain game di ponsel. Alih-alih melarangnya, Aminudin justru mendorong Ibra untuk belajar membuat game sendiri. "Daripada cuma main game, saya tanya apa tidak tertarik belajar bikin game. Dari situ dia mulai belajar koding," ungkap Aminudin.

Pembelajaran Mandiri yang Mengagumkan

Ketertarikan Ibra terhadap pemrograman berkembang pesat. Sejak kelas 4 SD, ia belajar secara autodidak melalui YouTube dan sumber-sumber di internet, serta memanfaatkan kecerdasan buatan (AI). Dalam enam bulan terakhir, fokus belajarnya beralih ke bidang keamanan siber. Meskipun ayahnya adalah seorang guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMKN Kemusu, Aminudin mengaku tidak memiliki keahlian khusus dalam keamanan siber. "Kalau saya memang ada basic IT tapi nggak ke cybersecurity. Benar-benar awam kalau cybersecurity. Jadi dia benar-benar autodidak sama ada kakak-kakak yang mungkin ngirimi tutorial-tutorial suruh mempelajari," jelasnya.

Dukungan dari keluarga juga diberikan secara bertahap. Awalnya, Ibra belajar menggunakan telepon genggam. Setelah melihat keseriusannya, orang tuanya membelikannya komputer bekas dan kemudian sebuah laptop untuk mendukung proses belajarnya.

Keberhasilan Ibra dalam mendapatkan penghargaan dari NASA tidak datang dengan mudah. Aminudin menjelaskan bahwa Ibra telah melaporkan kerentanan keamanan sebanyak empat kali melalui program Vulnerability Disclosure Policy (VDP) milik NASA. "Empat kali (melaporkan). Yang satu dianggap duplikat, yang satu lagi ditolak. Terus yang satu diterima (mendapat surat apresiasi). Kemudian ada satu lagi yang statusnya approve tapi belum ada balasan lebih lanjut," ungkapnya.

Program VDP adalah mekanisme resmi yang memungkinkan peneliti keamanan siber dari berbagai negara untuk melaporkan celah keamanan yang ditemukan pada sistem publik NASA agar dapat segera diperbaiki.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait