Fakta Ekonomi

Industri Keramik Dalam Negeri Manfaatkan Kebijakan Pembatasan Impor

Industri keramik di Indonesia mulai merasakan dampak positif dari kebijakan pemerintah yang membatasi produk impor. Hal ini berkontribusi pada peningkatan kapasitas produksi dan daya saing produk loka...

D
Dila Rakasiwi
08 July 2026
41 pembaca
Foto: istimewa
Foto: istimewa

TANGERANG -- Industri keramik nasional kini mulai menikmati hasil dari kebijakan pemerintah yang memperketat masuknya produk impor. Para pelaku industri menilai bahwa penerapan kebijakan antidumping dan penguatan Standar Nasional Indonesia (SNI) membuat produk keramik lokal semakin kompetitif, sehingga meningkatkan pemanfaatan kapasitas produksi.

Peningkatan Daya Saing Produk Lokal

Chief Executive Officer PT Platinum Ceramics Industry, Liem May Tjoe, mengungkapkan bahwa regulasi pemerintah tersebut menjadi salah satu faktor penting yang membantu industri keramik untuk bertahan dan berkembang di tengah berbagai tantangan. "Kalau sekarang karena pemerintah memberikan regulasi yang sedikit menghambat masuknya produk impor. Jadi kita sangat terbantu dengan itu. Kalau dari sisi produk impor itu sekarang ini pemerintah sangat support kami. Ini yang kami ingin pertahankan," ujarnya dalam acara MURI Awarding Ceremony di Indo Build Tech Expo, ICE BSD City, Tangerang, pada Rabu (8/7/2026).

May Tjoe menjelaskan bahwa sebelum kebijakan ini diterapkan, industri keramik dalam negeri menghadapi tekanan yang cukup besar akibat derasnya produk impor, terutama dari China dan India. Hal ini membuat persaingan di pasar domestik semakin ketat bagi produsen lokal. Namun, setelah pemerintah memperketat pengawasan terhadap produk impor, peluang bagi industri dalam negeri untuk menguasai pasar domestik mulai meningkat. "Sekarang produk impornya nggak masuk, kami yang berkembang," tambahnya.

Tantangan yang Masih Dihadapi

Meski demikian, May Tjoe menyatakan bahwa industri keramik masih menghadapi tantangan lain, seperti tingginya biaya energi dan distribusi. Ia mencatat bahwa harga gas yang belum kompetitif serta meningkatnya biaya logistik masih menjadi hambatan bagi pelaku industri. "Untuk pengiriman ekspedisi yang agak mulai susah. Itu sedikit menghambat kita," katanya. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah tetap mempertahankan berbagai kebijakan yang melindungi industri nasional agar momentum pertumbuhan tidak kembali melemah.

Optimisme serupa juga disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI), Edy Suyanto. Ia menegaskan bahwa industri keramik Indonesia menunjukkan tren positif meskipun industri keramik global mengalami perlambatan. Edy menjelaskan bahwa produksi keramik dunia diperkirakan turun dari sekitar 15,9 miliar meter persegi pada 2021 menjadi sekitar 11 miliar meter persegi pada 2024, atau menyusut hampir 30 persen. Sementara itu, tingkat utilisasi industri keramik nasional terus meningkat, dari 66 persen pada 2025 menjadi sekitar 73 persen pada tahun ini, dan diproyeksikan mencapai 75 persen pada 2026.

"Capaian ini menunjukkan industri keramik Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus tumbuh meskipun masih menghadapi tantangan berupa harga gas yang tinggi, pelemahan daya beli masyarakat, serta persaingan dengan produk impor," ujar Edy.

Di tengah prospek industri yang semakin membaik, PT Platinum Ceramics Industry juga meluncurkan inovasi Titanium Big Slab Glow in The Dark yang berhasil meraih Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai keramik slab pertama di Indonesia dengan efek menyala dalam gelap. May Tjoe menyatakan bahwa pengembangan produk ini memerlukan waktu sekitar satu tahun dan menjadi bukti bahwa industri keramik nasional mampu menghasilkan produk premium yang bersaing dengan produk luar negeri. "Kami ingin membuktikan bahwa kami bisa berinovasi, kami nggak kalah dengan produk-produk dari luar," katanya.

Ia optimis bahwa prospek industri keramik nasional akan terus membaik jika pemerintah tetap konsisten memberikan dukungan terhadap produk dalam negeri. "Optimis. Bahkan sampai ke depan kelihatannya kalau pemerintah terus men-support kami, harusnya industri keramik ini bisa terus berkembang," tutup May Tjoe.

Artikel Terkait