Bank Indonesia (BI) menginformasikan bahwa inflasi Indonesia pada bulan Juni 2026 tercatat sebesar 3,34 persen secara tahunan atau year on year (yoy), yang menunjukkan bahwa inflasi masih dalam kendali. Meskipun mendekati batas atas kisaran target, BI memastikan akan terus melakukan pengendalian inflasi dengan lebih konsisten.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan, “Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 terjaga dalam kisaran target 2,5±1 persen.” Pernyataan ini disampaikan dalam keterangannya yang dirilis pada Kamis (2/7/2026).
Kenaikan Inflasi Didorong oleh Transportasi
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi pada bulan Juni 2026 mengalami lonjakan menjadi 3,34 persen (yoy), meningkat dari 3,08 persen pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh kelompok transportasi, termasuk kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi yang terjadi pada bulan tersebut. Meskipun demikian, inflasi masih berada dalam kisaran target yang dianggap aman oleh BI.
Ramdan menambahkan, “Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasarannya ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.”
Perkembangan Inflasi Inti dan Volatile Food
Pada bulan Juni 2026, inflasi inti tercatat mencapai 0,23 persen secara bulanan (month to month/motm), relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,22 persen (mtm). Inflasi inti ini dipengaruhi oleh tingginya harga komoditas global, meskipun ekspektasi inflasi tetap terjaga. Secara tahunan, inflasi inti mencapai 2,76 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 2,59 persen (yoy).
Inflasi pada kelompok volatile food pada bulan Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 0,14 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat 0,22 persen (mtm). Inflasi pada kelompok ini terutama disebabkan oleh komoditas bawang merah, bawang putih, dan beras, yang terpengaruh oleh penurunan produksi di daerah sentra, kenaikan biaya transportasi, serta berakhirnya musim panen raya. Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 5,58 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 6,24 persen (yoy).
Bank Indonesia memperkirakan inflasi volatile food akan tetap terkendali berkat sinergi yang erat dalam pengendalian inflasi antara BI, TPIP, dan TPID, serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Kelompok administered prices pada bulan Juni 2026 mengalami inflasi sebesar 1,41 persen (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya yang sebesar 0,52 persen (mtm). Inflasi pada kelompok ini terutama disebabkan oleh komoditas bensin dan tarif angkutan udara seiring dengan penyesuaian harga BBM non-subsidi dan avtur akibat tingginya harga energi global. Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat inflasi sebesar 3,42 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 2,07 persen (yoy).
“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027,” tutup Ramdan.