Fakta Pendidikan

IPB University Luncurkan Varietas Cabai Habanero Lokal dengan Kepedasan Tinggi

IPB University telah berhasil mengembangkan empat varietas cabai habanero lokal yang pertama di Indonesia, dengan tingkat kepedasan yang mencapai 1,3 juta SHU.

N
Narayana Putra
17 July 2026
55 pembaca
Empat varietas cabai habanero karya pakar IPB. Foto: IPB University
Empat varietas cabai habanero karya pakar IPB. Foto: IPB University

IPB University telah merakit empat varietas cabai habanero lokal yang merupakan yang pertama di Indonesia. Inisiatif ini dipimpin oleh Prof. Muhamad Syukur, seorang ahli pemuliaan tanaman dari IPB University. Varietas yang dikembangkan meliputi Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB. Varietas ini menjadi cabai habanero pertama yang terdaftar di Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).

"Pada dasarnya cabai habanero di Indonesia itu belum ada. Baru ada Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan yang terdaftar. Jadi, yang mendapat perlindungan varietas pertama kali untuk jenis habanero adalah rakitan kami dari IPB University," jelas Prof. Syukur.

Kerja Sama dengan Pemda Bali

Perakitan dan pengembangan varietas Tabia Sala 1, Tabia Sala 2, Tabia Sala Kuning, dan Tabia Sala Oranye merupakan hasil kerja sama antara IPB dan Pemerintah Daerah Bali. Gubernur Bali, Dr. Wayan Koster, menyatakan dukungannya terhadap inisiatif ini, terutama untuk mendukung para petani di Bali dan petani Indonesia secara umum.

Tingkat Kepedasan yang Mencolok

Prof. Syukur menjelaskan bahwa salah satu daya tarik utama dari cabai ini adalah tingkat kepedasannya yang sangat tinggi, yang diukur menggunakan skala scoville heat units (SHU). Cabai ini bisa mencapai kepedasan lima kali lipat lebih tinggi dibandingkan cabai rawit biasa. Setiap varietas memiliki karakteristik warna dan tingkat kepedasan yang berbeda. Misalnya, Tabia Sala 1 yang berwarna merah memiliki tingkat kepedasan ekstrem yang mencapai 1-1,3 juta SHU. Sementara itu, Margi 2 yang berwarna peach memiliki tingkat kepedasan antara 350-500 ribu SHU.

"Tabia Sala Oranye IPB yang berwarna oranye memiliki tingkat kepedasan 350-500 ribu SHU. Tabia Sala Kuning IPB yang berwarna kuning juga memiliki tingkat kepedasan yang sama," tambahnya.

Kemampuan Tahan Iklim Tropis

Selain kepedasan yang luar biasa, cabai habanero yang dikembangkan oleh IPB ini juga memiliki kemampuan bertahan di iklim tropis dan tahan terhadap hama serta penyakit keriting kuning. Benih dari keempat varietas ini telah didistribusikan oleh Benih Dramaga, sehingga dapat diakses oleh petani di seluruh Indonesia.

Prof. Syukur berharap varietas cabai baru ini dapat berkembang baik dalam sektor pertanian maupun industri. Ia menilai bahwa varietas ini memiliki potensi yang besar baik untuk pasar domestik maupun global. Ia juga menekankan pentingnya cabai dengan tingkat kepedasan tinggi, terutama di dalam negeri, untuk mengurangi jumlah cabai yang diperlukan.

"Ada perusahaan pengolahan di Bogor yang berminat untuk mengembangkan cabai bubuk dari varietas habanero IPB University. Selain itu, ada potensi besar untuk ekspor ke Korea sebagai bahan untuk membuat hot pack yang digunakan saat musim dingin," ungkapnya.

Prof. Syukur menambahkan bahwa timnya telah memulai proses perakitan varietas ini sejak tahun 2020. Selama enam tahun penelitian, mereka menghadapi berbagai tantangan, termasuk pendanaan yang berkelanjutan, lahan yang terbatas, serta kebutuhan akan fasilitas dan sumber daya manusia yang memadai.

"Pertama tentu dana yang berkelanjutan. Kedua, lahan terbatas dan memerlukan rumah kaca. Ketiga, sumber daya manusia pendukung, mulai asisten pemulia, asisten lapangan hingga pegawai lapangan. Keempat, fasilitas pendukung seperti alat untuk analisis kepedasan yang mahal," tuturnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait