Jakarta - Ucapan seseorang dapat menjadi pendorong semangat atau justru memadamkannya. Hal ini dirasakan oleh Izzat El Umam Setiadi, yang pernah mendengar kalimat "Kubur saja mimpinya" saat berkonsultasi mengenai keinginannya untuk melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Pihak sekolah mengingatkan Izzat untuk lebih realistis karena tidak ada alumni dari sekolahnya yang berhasil masuk UGM.
Tidak ingin hanya mengandalkan jejak alumni, Izzat bertekad untuk berusaha melalui kemampuannya sendiri. Dengan belajar secara giat, ia akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya untuk diterima di UGM.
Kegagalan yang Membentuk Mental
Walaupun impiannya untuk masuk UGM tercapai, Izzat sebelumnya mengalami kegagalan dalam usaha masuk ke SMP dan SMA favorit. Meskipun merasa sedih, pengalaman tersebut justru membentuk mentalnya. "Dari pengalaman itu saya belajar enggak apa-apa gagal, yang penting terus mencoba," ujarnya.
Setelah memasuki SMA, Izzat semakin mantap untuk mewujudkan cita-citanya berkuliah di UGM. Ia mulai mempersiapkan diri dengan mengikuti berbagai kompetisi untuk membangun portofolio. Selama masa sekolah, Izzat aktif berpartisipasi dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) di bidang Geografi dan berhasil mencapai tingkat provinsi dengan peringkat keempat di tingkat kabupaten. Ia juga pernah meraih juara dalam lomba Ekonomi Syariah yang diselenggarakan oleh Universitas Jenderal Soedirman dan aktif mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya melalui English Club.
Seleksi dan Beasiswa Penuh
Izzat mengikuti seleksi UGM melalui jalur Ujian Mandiri. Menjelang pengumuman hasil, ia rutin melaksanakan salat tahajud setiap malam. Ketika hasil diumumkan, rasa tegang menyelimuti dirinya hingga akhirnya dinyatakan lolos. Ia langsung sujud syukur dan memberitahukan kabar baik tersebut kepada orang tuanya.
"Saya langsung sujud syukur," kenangnya. Rasa syukur Izzat semakin bertambah karena ia mendapatkan uang kuliah tunggal (UKT) sebesar Rp 0, yang berarti ia meraih beasiswa penuh. Hal ini membuat orang tuanya tidak perlu khawatir lagi mengenai biaya kuliah. "UKT nol ini benar-benar membantu. Saya jadi bisa fokus mengembangkan diri selama kuliah besok," tuturnya.
Minat di Bidang Teknologi Pangan
Izzat memilih program studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian. Ketertarikan ini muncul setelah melihat konten inovasi kemasan mie instan yang ramah lingkungan. Ia juga tertarik pada isu sampah makanan, plastik, dan ketahanan pangan. Menurut Izzat, teknologi pangan sangat penting untuk masyarakat, terutama di tengah permasalahan sampah yang semakin meningkat.
Dengan semangat yang tinggi, Izzat bertekad untuk mendalami bidang ini. Ia percaya bahwa impian ini tidak akan tercapai tanpa dukungan orang tua. Ia juga memberikan semangat kepada calon mahasiswa lain yang masih berjuang. "Semangat terus mengejar mimpi dan jangan pernah menguburnya. Selama kita terus mencoba, pasti akan ada jalannya," pesannya.