Jakarta - Siswa-siswa dari SMAN 1 Pontianak berbagi pengalaman mengenai keberanian mereka untuk mengajukan protes saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI. Mereka menyatakan bahwa keberanian tersebut muncul dari hubungan erat yang terjalin di antara mereka.
Almira, salah satu siswi peserta, menjelaskan, "Dari awal kita kan sudah menanamkan untuk chemistry, seperti yang sudah teman saya katakan tadi. Jadi ketika kita membangun chemistry ini juga kita saling terbuka, kemudian kita ini membangun rasa berani ketika kita punya salah? Kemudian ada yang perlu di evaluasi." Dia menambahkan bahwa penting untuk melakukan evaluasi terhadap kesalahan yang terjadi dalam perlombaan.
Protes yang Berani
Almira mengungkapkan bahwa kelompoknya merasa perlu untuk memprotes keputusan juri karena merasa jawaban mereka benar. Ia mencatat bahwa jawaban yang diberikan oleh tim lain sama dengan jawaban yang telah disampaikan oleh Ocha, anggota timnya, pada kesempatan pertama. Namun, tim lain justru mendapatkan 10 poin, sementara timnya justru mendapat nilai minus 5. "Nah, ketika host itu melemparkan soal kepada grup A dan juga grup B, grup B menjawab dengan pertanyaan... dengan jawaban yang sama. Sangat sama sekali, secara substansi juga sama. Kemudian diberikan nilai 10 poin oleh juri," jelas Almira.
Dia melanjutkan, "Maka di situ kami juga kaget, jujur kita kaget sekali karena memang tidak hanya secara substansi tapi secara kalimat yang dilontarkan Ocha sebagai tim C dan juga dengan tim B itu memiliki kesamaan yang persis. Makanya kami di situ pede sekali untuk bisa protes kepada dewan juri."
Pentingnya Keterbukaan dalam Tim
Siswa lainnya, Zein, menambahkan bahwa chemistry yang dibangun dalam tim sangat penting untuk kelancaran lomba. Ia menjelaskan bahwa fokus mereka tidak hanya pada pembelajaran, tetapi juga pada pengembangan memori tim. "Sebenarnya kami tuh fokusnya bukan belajar doang ya. Jadi kami juga membangun tim ini dengan chemistry dengan tujuan untuk, jadi untuk lomba kita ini nggak semena-mena untuk menang doang gitu," ujarnya.
Zein juga menekankan pentingnya evaluasi yang dilakukan secara rutin. "Kalau evaluasi setiap penghujung antara kami latihan itu selalu ada, terutama dari pembimbing kami di sini. Kemudian dari antar teman juga, karena kami di sini dari awal bertemu, pertemuan pertama kami menekankan harus terbuka. Jadi nggak usah bawa perasaan gitu," jelasnya.
Setelah video protes yang mereka buat menjadi viral, Ocha, salah satu siswi peserta, mengucapkan terima kasih atas dukungan dari masyarakat. Ia menyatakan bahwa dukungan tersebut memotivasi mereka untuk lebih semangat dan berkembang. "Dari saya dan tim berterima kasih kepada masyarakat atas dukungan dan aspirasi positifnya kepada kami. Semoga hal ini dapat menjadi semangat dan motivasi kami untuk berkembang dan maju lagi ke depannya," ungkap Ocha.
Dalam video yang beredar, terlihat bahwa juri memberikan nilai yang berbeda untuk jawaban yang sama dari peserta. Grup C dari SMAN 1 Pontianak mendapatkan nilai minus lima untuk jawaban mengenai proses pemilihan anggota BPK, sementara Grup B dari SMAN 1 Sambas yang memberikan jawaban serupa justru mendapat nilai 10 dari juri yang sama, yaitu Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI Dyastasita. Peserta Grup C sempat mengajukan protes karena merasa jawaban mereka sama, namun juri menyatakan bahwa jawaban Grup C tidak menyebut Dewan Perwakilan Daerah (DPD) secara jelas.
MPR telah mengambil langkah dengan menonaktifkan dewan juri dan MC pada acara tersebut, serta berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kegiatan LCC ini. "Terkait ramainya pemberitaan di media sosial tentang LCC Empat Pilar 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat, mengenai penilaian jawaban peserta pada salah satu sesi lomba, panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI telah menonaktifkan dewan juri dan MC pada kegiatan LCC ini," demikian pernyataan resmi MPR di akun Instagram mereka.