Fakta Nasional

Keiko Fujimori: Presiden Terpilih Peru yang Menyongsong Tantangan Besar

Keiko Fujimori telah terpilih sebagai Presiden Peru yang baru, menjadikannya pemimpin kesembilan dalam satu dekade terakhir. Dia adalah putri dari mantan Presiden Alberto Fujimori yang kontroversial.

A
Amara Rukmana
05 July 2026
48 pembaca
Foto: Keiko Fujimori (REUTERS/Angela Ponce)
Foto: Keiko Fujimori (REUTERS/Angela Ponce)

Lima - Keiko Fujimori telah dinyatakan sebagai Presiden terpilih Peru yang baru. Siapakah sebenarnya Keiko Fujimori? Berdasarkan informasi dari CNBC dan CNN pada Minggu (5/7/2026), Keiko Fujimori, yang kini berusia 51 tahun, adalah putri dari mendiang Presiden Peru, Alberto Fujimori, dan Susana Higuchi. Alberto Fujimori sendiri merupakan keturunan imigran Jepang yang menetap di Peru.

Ayahnya dikenal karena kepemimpinannya yang otoriter dari tahun 1990 hingga 2000, di mana ia dipuji karena berhasil mengatasi pemberontakan Maois dan mengendalikan hiperinflasi yang melanda negara. Namun, reputasi Alberto Fujimori ternoda oleh skandal suap yang melibatkan mantan kepala intelijen, Vladimiro Montesinos, yang memaksanya melarikan diri ke Jepang, negara asal keluarganya, pada November 2000. Dia tinggal di sana selama lima tahun sebagai pengungsi sukarela.

Sejarah Kontroversial Keluarga Fujimori

Alberto Fujimori kemudian dijatuhi hukuman 16 tahun penjara karena pelanggaran hak asasi manusia, sementara Keiko Fujimori sendiri menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam penyelidikan terkait tuduhan pendanaan kampanye yang dibatalkan pada tahun lalu. Keluarga Fujimori masih dianggap sebagai dinasti yang penuh kontroversi di Peru.

Keiko Fujimori juga pernah mengalami beberapa kali penahanan antara tahun 2018 dan 2020 saat penyelidikan berlangsung, di mana ia menghabiskan hampir satu setengah tahun di balik jeruji besi. Dia bukanlah sosok baru dalam dunia politik Peru, karena pernah menjabat sebagai ibu negara pada tahun 1994 setelah orang tuanya bercerai, yang terjadi setelah ibunya mengkritik korupsi pemerintahan suaminya.

Pada usia 19 tahun, Keiko mendampingi ayahnya, Alberto Fujimori, dalam KTT Amerika yang diadakan oleh Presiden AS Bill Clinton. Wanita yang memiliki nama lengkap Keiko Sofía Fujimori Higuchi ini juga pernah menjadi anggota kongres Peru pada tahun 2006 dan menjadi wanita pertama di negara tersebut yang berhasil mencapai putaran final pemilihan presiden pada tahun 2011, meskipun kalah. Dia kembali mencalonkan diri pada pemilihan presiden 2016 dan 2021, namun keduanya berakhir dengan kekalahan.

Pelantikan dan Tantangan yang Dihadapi

Baru-baru ini, Kantor Proses Pemilu Nasional Peru mengumumkan hasil penghitungan suara akhir yang menunjukkan bahwa partai Fujimori, Kekuatan Populer, berhasil mengalahkan kandidat sayap kiri, Roberto Sánchez, dari partai Bersama untuk Peru. Selisih suara yang diperoleh hanya 49.641 dari sekitar 18 juta suara, dengan Fujimori mendapatkan 50,13% suara sah, sementara Sánchez memperoleh 49,86% suara.

Keiko Fujimori dijadwalkan dilantik sebagai presiden pada 28 Juli dan diperkirakan akan menjabat selama lima tahun, bersama Luis Fernando Galarreta sebagai Wakil Presiden pertama dan Miguel Ángel Torres Morales sebagai Wakil Presiden kedua. Dengan terpilihnya Fujimori, ia menjadi presiden kesembilan Peru dalam sepuluh tahun terakhir.

Fujimori mengambil alih kepemimpinan negara setelah mengalami periode ketidakstabilan politik yang berkepanjangan, yang sering kali dikaitkan dengan kepresidenan ayahnya, yang digulingkan pada tahun 2000 dan kemudian dihukum atas berbagai tuduhan korupsi, penggelapan, dan pelanggaran hak asasi manusia. Warisan Alberto Fujimori masih menjadi isu yang memecah belah di Peru, terutama setelah pengampunan kontroversial yang diberikan pada tahun 2023.

Keiko Fujimori kini dihadapkan pada tantangan besar untuk menyatukan masyarakat yang terpolarisasi, dengan Kongres yang terpecah dan cenderung menggulingkan presiden. Selain itu, negara ini juga menghadapi kesenjangan ekonomi yang signifikan antara ibu kota, Lima, dan daerah pedesaan, di mana protes besar dan bentrokan dengan aparat keamanan telah menyebabkan lebih dari 60 orang tewas setelah pemecatan Castillo dari jabatannya. Daerah-daerah tersebut juga merupakan basis dukungan bagi Sánchez dan partainya, yang memiliki blok terbesar kedua di Kongres, sementara partai Fujimori memegang kursi terbanyak.

Artikel Terkait