Pada 24 Juni 1982, pesawat British Airways (BA) nomor 009 lepas landas dari Kuala Lumpur, Malaysia, menuju Perth, Australia tanpa masalah berarti. Namun, saat pesawat melintasi Pulau Jawa, situasi mulai berubah ketika penumpang melihat asap keluar dari ventilasi AC di kabin. Awak kabin segera memeriksa sumber asap tersebut, sementara penumpang yang masih diperbolehkan merokok di kabin merasa khawatir, seperti yang dilaporkan dalam program YouTube Mayday: Air Disaster.
Beberapa waktu kemudian, pesawat Boeing 747 tersebut terpapar partikel yang mengakibatkan terjadinya efek St Elmo's Fire, di mana badan pesawat berkilauan dengan cahaya plasma biru. Cahaya ini juga terlihat mengelilingi keempat mesin jet pesawat. Kapten Eric Moody, yang memimpin kokpit, awalnya berasumsi bahwa pesawatnya menabrak awan petir, meskipun radar menunjukkan tidak ada awan petir yang terdeteksi.
Mesin Pesawat Mati dan Pendaratan Darurat
Setelah beberapa saat, semua mesin pesawat mati satu per satu, menyebabkan pesawat kehilangan ketinggian dari 11.300 meter menjadi 3.650 meter. Dalam situasi genting ini, Kapten Moody mengumumkan kepada penumpang, "Penumpang sekalian, ini kapten Anda yang berbicara. Kami mengalami sedikit masalah. Keempat mesin telah berhenti. Kami sedang berusaha sekuat tenaga untuk menghidupkannya kembali. Saya harap Anda tidak terlalu khawatir," dengan nada tenang.
Meski demikian, kepanikan mulai melanda penumpang, terutama ketika Betty Ferguson, salah satu penumpang, melihat api keluar dari mesin. "Suasananya hampir senyap total, kecuali suara desingan itu," kenangnya. Kapten Moody kemudian melakukan panggilan MayDay kepada Air Traffic Center (ATC) Jakarta untuk meminta izin melakukan pendaratan darurat di Bandara Halim Perdanakusuma. Dalam kondisi mesin yang mati, Moody bahkan mempertimbangkan untuk mendarat di laut jika waktu tidak mencukupi untuk mencapai landasan pacu.
Setelah 13 menit yang penuh ketegangan, Moody berhasil menghidupkan kembali mesin yang hampir mati dan melakukan pendaratan dengan selamat setelah memutar mengelilingi gunung berapi. Namun, kaca kokpit sudah buram akibat tabrakan dengan material yang mereka kira berasal dari awan petir. Dengan bantuan dua kopilotnya, Moody akhirnya mendaratkan pesawat jumbo itu secara manual, dipandu oleh lampu runway Halim yang samar terlihat.
Investigasi dan Dampak Abu Vulkanik
Keesokan harinya, Moody dan kopilotnya kembali ke bandara untuk memeriksa pesawat yang terlihat seperti disemprot pasir, dengan cat yang terkelupas. Mereka membongkar mesin jet Rolls Royce untuk pemeriksaan lebih lanjut. Investigasi yang dipimpin oleh mantan insinyur Rolls Royce, Malcolm Grayburn, menemukan bahwa sebagian besar mesin mengalami goresan parah akibat abu vulkanik.
Pihak Rolls Royce melakukan analisis forensik terhadap mesin-mesin tersebut, mendokumentasikan temuan melalui fotografi dan analisis laboratorium. Grayburn menemukan bahwa mesin-mesin itu tersumbat oleh debu halus, serpihan batu, dan pasir. Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa puing-puing tersebut adalah abu vulkanik yang mengandung silika kristalin (SiO2) dalam bentuk kristobalite, yang merupakan bahan pembuat kaca.
Beberapa hari setelah insiden tersebut, penumpang dan awak pesawat mengetahui bahwa pada malam penerbangan mereka, Gunung Galunggung telah meletus dengan hebat, berjarak sekitar 160 kilometer di tenggara Jakarta. Letusan tersebut mengakibatkan evakuasi terhadap 60 ribu orang.
Sejak insiden ini, dunia penerbangan semakin menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh abu vulkanik. Menurut World Meteorological Organization, investigasi menunjukkan bahwa semua mesin pesawat mengalami mati mesin akibat masuknya abu vulkanik dari letusan Gunung Galunggung.
Masuknya abu vulkanik dan gas ke dalam mesin pesawat dapat mengakibatkan berbagai masalah, termasuk mati mesin, erosi pada komponen avionik dan mesin, penyumbatan filter, serta korosi pada permukaan logam. Untuk mengatasi masalah ini, World Meteorological Organization telah membentuk International Airways Volcano Watch (IAVW) untuk memantau dampak letusan gunung api terhadap penerbangan.