Jakarta - Abelardo de la Espriella telah dilantik sebagai Presiden Kolombia yang baru pada hari Jumat. Namun, hanya sehari setelah pelantikannya, negara tersebut mengalami serangan bom yang mengguncang keamanan publik. Espriella dilantik di kota Cali, yang terletak di wilayah barat daya Kolombia. Ia dikenal sebagai pemimpin sayap kanan garis keras dan memiliki komitmen untuk memerangi "narkoterorisme tanpa gencatan senjata" serta menghentikan perundingan damai dengan kelompok bersenjata.
Serangan Mematikan
Satu anggota polisi tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka akibat serangan bom yang terjadi di Kolombia. Angkatan Darat Kolombia mengungkapkan bahwa kelompok gerilyawan FARC menggunakan bahan peledak untuk menghancurkan sebuah gerbang tol di dekat Cali pada dini hari Sabtu. Dalam insiden tersebut, dua petugas keamanan mengalami luka ringan. Serangan lain juga terjadi yang dipimpin oleh kelompok pemberontak di bawah komando Ivan Morodisco, seorang pemimpin gerilyawan yang paling dicari di Kolombia. Mereka beroperasi di sekitar lokasi gerbang tol yang sedang dibangun di jalan raya Pan-American, tepatnya di wilayah administratif Santander de Quilichao.
Reaksi Presiden
Di sisi lain, di departemen Cesar di wilayah utara, sekitar 1.000 kilometer dari lokasi sebelumnya, seorang petugas juga tewas dalam serangan bom lain yang terjadi pada dini hari Sabtu. Sebuah pesawat nirawak yang membawa bahan peledak menghantam kantor polisi, menurut keterangan dari pejabat setempat. De la Espriella mengecam serangan tersebut melalui akun media sosialnya, menyatakan bahwa "menyerang infrastruktur negara sama dengan menyerang kemajuan." Ia menegaskan bahwa kepada pihak yang bertanggung jawab, "tidak akan ada tempat persembunyian, tidak ada keringanan hukuman, dan tidak ada impunitas." Meskipun pihak berwenang belum mengidentifikasi pelaku, De la Espriella menegaskan bahwa siapa pun yang terlibat "tidak akan lolos dari hukuman."