Fakta Ekonomi

Kenaikan Harga Kedelai Picu Produsen Tahu Tempe Kecilkan Ukuran Produk

Selasa, 19 Mei 2026, 15:42 WIB 8 views 3 menit baca
Kenaikan Harga Kedelai Picu Produsen Tahu Tempe Kecilkan Ukuran Produk
Foto: Republika/Thoudy Badai
Bagikan:

Di Kota Semarang, Jawa Tengah, produsen tahu dan tempe merasakan dampak negatif dari pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS. Mereka khawatir bahwa kondisi ini akan semakin meningkatkan harga kedelai, yang telah mengalami kenaikan secara bertahap sejak awal tahun ini.

Adib Mukharam, seorang pengusaha tempe di Pandean Lamper, Kecamatan Gayamsari, menyatakan bahwa harga kedelai kini telah mencapai Rp 10.500 per kilogram. Sebelumnya, pada awal tahun 2026, harga kedelai hanya berkisar Rp 8.000 per kilogram. Dalam sebulan terakhir, harga kedelai mengalami kenaikan sekitar Rp 250 per kilogram. "Jadi naiknya harga kedelai sudah cukup signifikan, sekitar 25 persen dalam waktu empat bulan terakhir," ujarnya saat ditemui di tempat usahanya pada Selasa (19/5/2026).

Kenaikan Biaya Produksi

Adib menjelaskan bahwa usahanya memerlukan pasokan kedelai sebanyak 500-600 kilogram setiap harinya. Dengan harga kedelai yang terus meningkat, ia terpaksa harus menambah modal untuk biaya produksi. Selain itu, harga plastik juga melonjak tajam, yang semakin menekan para produsen tempe. "Plastik itu biasanya kita beli Rp 550 ribu per rol. Sekarang harganya Rp 1.150.000 per rol," ungkapnya.

Akibat dari kenaikan harga kedelai dan plastik, Adib terpaksa menaikkan harga jual tempenya sekitar Rp 1.000 per bungkus atau papan. Untuk menghindari lonjakan harga yang terlalu tinggi, ia juga mengurangi ukuran tempe per bungkus. "Jadi kita bikin ukurannya lebih kecil supaya harganya lebih terjangkau," tambahnya.

Adib mengungkapkan kekhawatirannya bahwa harga kedelai akan terus naik akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS. "Kalau lihat potensi kenaikan harga, kemungkinan besar makin naik. Karena kurs dolar AS kelihatannya makin naik. Kedelai kita kan mayoritas memang impor, jadi mau tidak mau kita mengikuti harga dari importir," jelasnya.

Imbas pada Daya Beli Masyarakat

Dia juga menekankan bahwa meskipun sebagai produsen ia bisa menyesuaikan harga jual dengan harga bahan baku, ia khawatir daya beli masyarakat akan melemah. "Yang jadi pertanyaan, ketika harga makanan semuanya naik, tapi ternyata ekonomi masyarakat juga turun, akhirnya daya beli jadi turun," tuturnya. Adib berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk mengatasi pelemahan rupiah.

Joko Wiyatno, pemilik pabrik tahu di Jomblang, Kecamatan Candisari, juga merasakan dampak dari kenaikan harga kedelai. Ia mencatat bahwa harga kedelai telah meningkat dari Rp 7.000 hingga Rp 8.000 per kilogram pada awal tahun ini, hingga mencapai Rp 10.600-Rp 10.700 per kilogram saat ini. "Nah sekarang ditambah rupiah sedang anjlok banget, bisa tambah lagi kenaikannya," ujarnya.

Joko menjelaskan bahwa mayoritas pasokan kedelai berasal dari impor, sehingga fluktuasi nilai tukar sangat berpengaruh. "Sebelum rupiah anjlok, itu harganya sudah naik tinggi. Sekarang rupiah anjlok, otomatis nanti bisa naik lagi," tambahnya. Ia berharap harga kedelai tidak terus meningkat, mengingat daya beli masyarakat saat ini juga menurun.

Seperti Adib, Joko juga merasakan dampak dari kenaikan harga plastik, yang telah meningkat lebih dari 100 persen. "Untuk plastik tong, dari Rp 30 ribu per kilo, sekarang Rp 60 ribu per kilo," ungkapnya. Dalam sehari, pabrik tahunya mengolah antara 700-900 kilogram kedelai, dan dengan kenaikan harga bahan baku, Joko harus mengeluarkan biaya produksi lebih banyak.

Joko menyatakan bahwa harga tahu dapat dinaikkan jika para pelaku usaha sepakat. Untuk mengatasi kenaikan harga kedelai dan plastik tanpa menaikkan harga jual, ia terpaksa memperkecil ukuran tahu yang diproduksinya. "Kita menyiasatinya dengan mengurangi takaran. Kalau biasanya takaran berapa kilo kedelai, itu kita kurangi," jelasnya.

Ia berharap pemerintah dapat menstabilkan harga kedelai dan nilai tukar rupiah, mengingat sebagian besar kedelai masih diimpor. "Pemerintah kita seharusnya bisa mengendalikan ini," tuturnya. Joko menambahkan bahwa jika harga bahan baku terus melambung, produsen tahu dan tempe akan semakin tertekan, terutama jika disertai dengan penurunan daya beli konsumen. Ia bahkan mempertimbangkan untuk meliburkan usahanya jika ongkos produksi tidak sebanding dengan keuntungan.

Saat berita ini ditulis, nilai tukar satu dolar AS telah mencapai Rp 17.700.

A

Penulis

Amara Rukmana

Penulis di Nalar Fakta

Berita Terkait