Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan tren penguatan pada pagi hari Kamis, di tengah perhatian investor terhadap arah kebijakan suku bunga acuan global. Sementara itu, nilai tukar rupiah mengalami penurunan sebesar 26 poin atau 0,14 persen, menjadi Rp 17.978 per dolar AS.
IHSG dibuka dengan kenaikan 14,72 poin atau 0,26 persen, mencapai posisi 5.709,84. Di sisi lain, Indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan juga mengalami kenaikan, bertambah 2,57 poin atau 0,46 persen menjadi 559,32.
Analisis Pergerakan IHSG dan Suku Bunga
Berdasarkan analisis teknikal, IHSG diperkirakan akan mengalami penguatan terbatas dengan level support di angka 5.320 dan resistance di 5.735. Meskipun demikian, potensi koreksi masih mungkin terjadi, sehingga investor disarankan untuk tetap waspada," ungkap Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, dalam laporannya di Jakarta.
Dari perspektif internasional, dalam pertemuan Forum Perbankan European Central Bank (ECB), Ketua The Fed Kevin Warsh menyatakan bahwa risiko inflasi telah menurun dalam beberapa pekan terakhir, dengan target inflasi tetap di level 2 persen. Warsh juga menambahkan bahwa ekspektasi inflasi selama empat pekan pertama kembali menurun, sejalan dengan fokus The Fed dalam menjaga stabilitas inflasi. Dengan tidak adanya kenaikan suku bunga dari The Fed, imbal hasil obligasi juga tidak mengalami peningkatan, bahkan cenderung menurun. "Karena saat ini harga energi dan bensin terus mengalami penurunan setelah adanya kabar baik mengenai kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran," jelas Nico.
Data Inflasi dan Neraca Perdagangan
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi untuk bulan Juni 2026 secara bulanan mencapai 0,44 persen, sementara secara tahunan mencapai 3,34 persen. Kenaikan inflasi ini dipengaruhi oleh faktor musiman, peningkatan harga bahan baku, serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Selain itu, BPS juga mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, yang merupakan defisit pertama dalam enam tahun terakhir, setelah nilai impor mencapai 24,81 miliar dolar AS, melebihi nilai ekspor yang hanya 23,20 miliar dolar AS.
"Tekanan terhadap sektor eksternal Indonesia mulai meningkat, terutama akibat perlambatan ekspor di tengah melemahnya permintaan global serta penurunan harga sejumlah komoditas unggulan," kata Nico. Kenaikan impor menunjukkan bahwa kebutuhan domestik masih kuat, baik untuk bahan baku, barang modal, maupun energi. Jika peningkatan impor didominasi oleh bahan baku dan barang modal, hal ini masih dapat dianggap positif karena mendukung aktivitas produksi dan investasi. Nico mengingatkan bahwa jika tren pelemahan ekspor berlanjut, surplus perdagangan yang selama ini menjadi penopang stabilitas nilai tukar rupiah dan cadangan devisa berpotensi menyusut. "Namun, karena secara kumulatif dari Januari hingga Mei 2026 neraca perdagangan masih mencatat surplus, dampaknya terhadap fundamental ekonomi Indonesia diperkirakan masih terbatas," tambahnya.
Pada perdagangan Rabu (1/7/2026), bursa Eropa menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks Euro Stoxx 50 melemah 0,70 persen, sedangkan indeks FTSE 100 Inggris dan DAX Jerman masing-masing melemah 0,18 persen dan menguat 0,18 persen. Indeks CAC 40 Prancis juga melemah 0,79 persen. Di bursa AS, Wall Street juga bergerak variatif dengan indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,03 persen, S&P 500 melemah 0,20 persen, dan Nasdaq Composite melemah 1,54 persen. Sementara itu, bursa saham Asia pada Kamis pagi menunjukkan pergerakan yang beragam, dengan indeks Nikkei menguat 1,55 persen, sedangkan indeks Shanghai dan Hang Seng melemah masing-masing 0,83 persen dan 1,15 persen. Indeks Strait Times mengalami penguatan sebesar 0,49 persen.