Latiesha Firenzie Bharata mulai mengenal dunia Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) saat masih di bangku SMP. Ketertarikan yang ia eksplorasi sejak kecil membawanya menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Pusat pada tahun 2026, mewakili DKI Jakarta. Ia mengungkapkan bahwa pengalaman pertamanya dalam mengibarkan bendera terjadi saat upacara 17 Agustus di sekolahnya. Seiring berjalannya waktu, para pelatih di sekolahnya memperkenalkan berbagai tingkatan Paskibraka, mulai dari tingkat kota, provinsi, hingga pusat.
Dukungan dan Kepercayaan Diri
Setelah memasuki SMA di Al-Izhar Pondok Labu, Jakarta Selatan, Latiesha merasa sudah cukup dewasa untuk mendaftar menjadi anggota Paskibraka. Meskipun mendapatkan dukungan dari keluarga dan teman-temannya, ia mengakui sempat merasa kurang percaya diri, baik secara fisik maupun mental. Namun, dorongan dari orang-orang di sekitarnya mendorongnya untuk tetap mendaftar. Dalam seleksi tingkat kota, ia menyadari bahwa selain fisik dan mental, etika serta sikap juga menjadi faktor penilaian.
"Jadi di situ saya belajar, saya terus berlatih untuk menjadi yang terbaik supaya terpilih. Dan Alhamdulillah saat diumumkan, saya terpilih sebagai salah satu capaska (calon paskibraka) di tingkat kota, yaitu Jakarta Selatan," ujarnya.
Manajemen Waktu dan Adaptasi
Latiesha menjelaskan bahwa capaska di tingkat kota mendapatkan beberapa sesi latihan setiap minggu. Ia harus beradaptasi dan belajar mengelola waktu serta energinya. "Di situ saya sempat shock dengan budaya latihannya karena sebelumnya saya itu, saya menilai diri saya sendiri sebagai orang yang aktif. Dan pada saat itu, saya masuk organisasi luar sekolah dan OSIS juga, jadi agak bentrok, bisa dibilang," tuturnya.
Ia juga belajar untuk memprioritaskan hal-hal yang lebih bermanfaat dalam jangka panjang daripada kesenangan sesaat. "Dan di situ saya sudah menguasai adaptasi dengan jadwal baru, dan saya sudah mulai senang dengan situasi saya di paskibra tingkat kota," tambahnya.
Untuk menjadi capaska tingkat pusat, rutinitas Latiesha berubah drastis. Dari yang sebelumnya hanya sekolah, pulang, bermain, dan beristirahat, kini ia harus berolahraga dan mempelajari materi Pancasila serta Kewarganegaraan. Kegiatan ini dianggapnya penting untuk dapat menjalankan tugas sebagai Paskibraka.
"Sebagai paskibraka, kami juga harus jadi teladan. Jadi kita harus membiasakan diri untuk menjadi yang terbaik dari asal daerah, provinsi, maupun kota masing-masing. Jadi pastinya kerasa perbedaan, dan harus adaptasi lagi," ungkapnya.
Latiesha mengakui pernah merasa lelah dan kurang percaya diri, tetapi ia menyadari bahwa semua itu bagian dari proses adaptasi dari kebiasaan lama ke yang baru. "Karena Paskibraka kan identik dengan kedisiplinan, kerapian, dan kekompakan, yang sebelumnya mungkin belum terimplementasikan di keseharian kita," jelasnya.
Dukungan Teman dan Keluarga
Selama proses seleksi, Latiesha merasa bahwa semua teman-temannya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ketika ia merasa ragu, ia teringat akan dukungan dari orang tua dan teman-temannya. "Saya masih mencoba yang terbaik dan mengeluarkan yang terbaik. Karena juga orang tua saya sangat bangga akan prestasi saya ini, sudah sampai seleksi tingkat provinsi. Jadi saya terus mencoba," ucapnya.
Latiesha bersyukur karena teman-teman sesama peserta seleksi saling mendukung meskipun mereka bersaing untuk meraih posisi di Paskibraka tingkat pusat. "Saya ada teman di selama seleksi, dan dia terus meyakinkan saya selama menginap karena kami sekamar. Dan saya jadi yakin. Dan saat pantukhir (pemantauan akhir) tiba, pengumumannya juga tiba, Alhamdulillah kami berdua keterima sebagai calon verifikasi pusat. Dan itu kami sudah senang banget, Alhamdulillah. Saya juga sangat bangga dengan diri saya sendiri," tuturnya.
Latiesha juga merasakan sikap saling dukung saat bertemu peserta seleksi dari 38 provinsi. "Dan juga saling membantu, walaupun kami baru kenal," ujarnya.
Pelatihan di Tingkat Pusat
Setelah lolos verifikasi pusat, Latiesha menjalani pelatihan sebagai calon Paskibraka tingkat pusat. Hari-harinya dipenuhi dengan rutinitas padat, mulai dari pembelajaran, olahraga, hingga latihan peraturan baris-berbaris. Masa pelatihan ini menjadi tantangan tersendiri baginya, terutama karena harus terpisah dari keluarga. Ia juga harus menitipkan ponselnya kepada panitia, dan komunikasi darurat dilakukan melalui pengasuh.
"Jadi rasanya agak sedih dan susah. Namun pastinya dengan semua teman-teman yang di sini, kami terus disemangatin dan tentunya di sini jadi ada keluarga baru untuk saling merangkul dan saling menjaga," ucapnya.
Mewakili daerahnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Latiesha, baik untuk dirinya maupun orang tuanya. Bergabung dengan teman-teman dari berbagai latar belakang di tingkat pusat memberinya kesempatan untuk merasakan persatuan dalam mengibarkan bendera pusaka di HUT RI di Istana.
"Di situ kami bisa merasakan kekeluargaan dan keseruan, kesatuan kami semua di Indonesia ini," ungkapnya.
Selama masa pelatihan, Latiesha juga melatih kemampuan berbicara di depan umum serta belajar berempati dan saling peduli. "Di sini pun, karena kita sudah keluarga, kami saling bertukar cerita. Dan di situ saya mengenal berbagai emosi, berbagai perasaan, dan berbagai variasi cara orang menanggapi suatu situasi," jelasnya.
Setelah bertugas pada hari HUT RI, Latiesha berencana memanfaatkan pengalamannya sebagai Paskibraka untuk terus mengembangkan diri dan berkontribusi dalam kegiatan yang bermanfaat bagi tanah air.
Apakah Anda ingin mengikuti jejak Latiesha sebagai Paskibraka tahun depan? Mulailah mempersiapkan diri dari sekarang!