Jakarta - Ketika ditanya tentang prospek karier lulusan jurusan peternakan, Luthfin Abidah memberikan jawaban yang menggembirakan: "Bisa berkarier di Australia." Pernyataan ini mencerminkan perjalanan karier Luthfin dalam bidang peternakan. Selama menjadi mahasiswa di Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ia aktif dalam berbagai organisasi, berperan sebagai asisten laboratorium, dan mengikuti program Learning Express (LEx) yang bekerja sama dengan Singapore Polytechnic. Luthfin juga terlibat dalam program magang, termasuk yang berskala internasional, yang membekalinya dengan pengalaman serta kompetensi yang membawanya berkarier di Australia.
Awal Karier di Australia
Perjalanan Luthfin menuju karier di Australia dimulai ketika ia mengikuti program pertukaran dan magang NTCA Indonesia Australia Pastoral Program (NIAPP) yang diadakan oleh Northern Territory Cattlemen's Association. Dalam program tersebut, ia menjadi perwakilan UMM dan mendapatkan pelatihan praktik peternakan modern di Australia. "Dulu saya pernah ikut program magang NIAPP ke Australia. Selama sepuluh minggu, perwakilan mahasiswa UMM dilatih secara intensif langsung tentang praktik beternak sapi potong modern serta penerapan animal welfare yang tepat," ungkapnya.
Program ini membantunya memperoleh sertifikasi kompetensi setara D1 Agriculture dan memperluas wawasan internasionalnya. Keterampilan yang diperoleh pun menarik perhatian perusahaan peternakan sapi di Australia. "Ketika saya mendaftar kerja di sini (Australia), skill peternak saya sudah terbentuk matang dan kompetensi itulah yang dilihat oleh perusahaan," tambahnya.
Tantangan dan Kesempatan di Masa Pandemi
Setelah lulus dari UMM, Luthfin menghadapi tantangan besar akibat pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia. Namun, ia tidak menyerah dan memanfaatkan waktu untuk membantu bisnis sapi perah keluarganya. Pada tahun 2022, ia mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan peternakan sapi di Australia. Sebelumnya, ia juga sempat menjadi sorotan media besar Australia, ABC News. "Setelah rencana karier sempat tertunda karena pandemi, hasil wawancara saya dengan media Australia justru memancing perhatian perusahaan peternakan. Mereka kemudian langsung menghubungi dan merekrut saya untuk menangani berbagai operasional mulai dari merawat anak sapi hingga mengoperasikan alat pertanian modern," jelasnya.
Dalam wawancaranya dengan ABC News, Luthfin mengungkapkan kekagumannya terhadap sistem peternakan modern di Australia yang memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan. Ia berharap perempuan Indonesia dapat lebih berperan dalam industri peternakan di masa depan. "Yang saya sukai di sini (Northern Territory) adalah perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Saya pikir perempuan juga bisa menjadi peternak yang lebih baik; kami sabar dan kami juga bisa mengelola banyak hal sekaligus," ujarnya.
Saat ini, Luthfin telah meraih pengakuan atas pengalaman dan kompetensinya di industri peternakan, dan kini ia menjabat sebagai Young Staff Manager di salah satu perusahaan peternakan sapi besar di Australia.