Fakta Nasional

Kondisi Forest City: Dari Proyek Impian Menjadi Sarang Penipuan

Forest City di Malaysia, yang awalnya dipromosikan sebagai proyek megah, kini menjadi lokasi bagi sindikat penipuan. Meskipun dirancang untuk menampung ratusan ribu penduduk, kenyataannya hanya sediki...

W
Wira Yudha
13 August 2026
29 pembaca
Forest City dirancang menjadi rumah bagi hampir satu juta orang, namun hanya segelintir penghuni yang bermukim di sini. (AFP)
Forest City dirancang menjadi rumah bagi hampir satu juta orang, namun hanya segelintir penghuni yang bermukim di sini. (AFP)

Forest City, yang terletak di Malaysia, terlihat seperti hasil cetakan printer 3D dengan deretan bangunan putih yang berjejer di tepi pantai. Proyek ambisius yang diluncurkan oleh pengembang asal China pada tahun 2016 ini, dengan nilai mencapai US$100 miliar (sekitar Rp178 triliun), awalnya dipromosikan sebagai "surga impian bagi seluruh umat manusia" dan direncanakan untuk menampung sekitar 700.000 penduduk. Namun, setelah satu dekade, jumlah penghuni yang tinggal di pulau buatan seluas 14 kilometer persegi ini diperkirakan hanya mencapai 1% dari target tersebut.

Di tengah deretan gedung pencakar langit yang menjulang, jalanan di Forest City tampak sepi. Di dalam apartemen-apartemen yang kosong, debu menempel di permukaan meja dapur dan jendela tertutup. Jason Deng, seorang investor berusia 56 tahun yang menjadi salah satu pembeli awal di Forest City, mengungkapkan, "Pada 2016 mereka menggambarkan tempat ini sebagai kota emas; sangat, sangat indah." Dia mengeluarkan "banyak uang" untuk membeli lima unit properti, dan kini menyesali keputusannya, "Kalau saya tahu tempat ini tidak begitu bagus, saya tidak akan membeli begitu banyak apartemen."

Penggerebekan Sindikat Penipuan

Pada pertengahan Juli lalu, pihak kepolisian Malaysia melakukan penggerebekan terhadap dua sindikat penipuan yang diduga beroperasi di 32 lokasi di Forest City. Sebanyak 335 orang ditangkap dan barang bukti senilai sekitar satu juta ringgit (Rp4,3 miliar) disita, termasuk 313 komputer, 1.557 telepon genggam, 17 laptop, dan 10 modem. Dua sindikat tersebut diketahui menjalankan penipuan investasi dan asmara, menargetkan korban di luar negeri, dengan salah satu sindikat menempati 27 apartemen di lima lantai sebuah menara hunian.

Di antara yang ditangkap, terdapat 309 warga negara China, 19 warga Indonesia, tiga warga Malaysia, dan empat warga Myanmar. Kepala Polisi Johor, Ab Rahaman Arsad, menyatakan bahwa pihak berwenang bekerja sama dengan Interpol untuk melacak otak di balik operasi tersebut. Para ahli dan warga setempat menyebutkan bahwa situasi ini mungkin hanya puncak dari masalah yang lebih besar, mencerminkan perkembangan industri penipuan global yang semakin profesional.

Fenomena Kota Hantu dan Penipuan

Forest City, yang dipromosikan sebagai kota metropolitan ramah lingkungan, kini menghadapi berbagai tantangan. Proyek ini, yang dipimpin oleh Country Garden, salah satu pengembang properti terbesar di China, mengalami kemunduran akibat dampak pandemi Covid, krisis properti di China, dan pembatasan pinjaman bagi warga negara China. Akibatnya, proyek ini hampir terhenti total, dengan hanya sekitar 15% hingga 20% dari pembangunan yang selesai.

Kevin, seorang penyewa yang juga bekerja dalam penjualan properti di Forest City, mengungkapkan bahwa penipuan di kawasan tersebut sudah menjadi "rahasia umum". Dia menambahkan, "Kami tahu apa yang mereka lakukan. Ini sebenarnya masalah yang sangat umum di Kota Johor dan Kuala Lumpur, tetapi terutama di Forest City." Dia menjelaskan bahwa reputasi Forest City sebagai "kota hantu" yang setengah ditinggalkan justru menarik perhatian para penipu, yang merasa aman untuk beroperasi di lokasi tersebut.

Dengan banyaknya properti kosong dan infrastruktur modern, Forest City menjadi tempat yang ideal bagi sindikat penipuan untuk bersembunyi di balik bisnis yang tampak sah. John Wojcik, seorang analis di TRM Labs, menyatakan, "Pengembangan seperti ini menawarkan tepat apa yang dicari sindikat-sindikat tersebut: infrastruktur modern, sejumlah besar properti kosong, dan konektivitas internasional." Hal ini menjadikan Forest City sebagai lokasi yang menarik bagi para pelaku kejahatan.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Forest City masih berusaha memasarkan dirinya sebagai pusat investasi properti dan inovasi teknologi. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kawasan ini lebih dikenal sebagai sarang penipuan, dengan banyak orang yang kehilangan uang pada proyek-proyek yang tidak pernah terwujud.

Kevin menambahkan, "Bagi saya, saya tidak peduli. Itu bukan urusan saya... Saya bekerja di sini hanya untuk gaji." Sementara itu, Phillip, seorang pendatang dari Singapura, mengaku tidak terkejut dengan laporan mengenai sindikat penipuan di kompleks tempat tinggalnya. Dia justru merasa senang melihat kawasan tersebut mulai berkembang dari "kota hantu" menjadi tempat yang lebih hidup.

Dengan kondisi yang ada, Forest City tetap menjadi perhatian, baik bagi para investor maupun penegak hukum, yang terus berupaya mengatasi masalah penipuan yang semakin meluas di kawasan tersebut.

Artikel Terkait