Jakarta - BMKG menjelaskan bahwa dinamika atmosfer menjelang akhir Agustus hingga awal September berkontribusi pada berlanjutnya kondisi kering di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kemarau masih berlangsung di sejumlah lokasi pada bulan September.
Menurut BMKG, banyak wilayah di Indonesia, khususnya di bagian selatan Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta beberapa bagian Papua, masih mengalami curah hujan yang rendah. Selain itu, fenomena El Niño yang sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif turut mendukung kondisi kemarau yang kering.
Potensi Terjadinya Hujan Lokal
Walaupun demikian, terdapat beberapa daerah yang berpotensi menerima hujan. Dinamika atmosfer masih memungkinkan pertumbuhan awan hujan secara lokal. Contohnya, di pesisir utara Aceh, Selat Malaka bagian utara, Kepulauan Aru, Laut Arafuru bagian tengah hingga timur, serta di Papua Selatan.
BMKG menyatakan, "Kondisi atmosfer tersebut menyebabkan sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dan perairan sekitarnya masih berpotensi hujan dengan intensitas bervariasi dan sporadis serta durasi singkat," seperti yang tercantum di laman resmi mereka.
Perkiraan Cuaca 30 Agustus hingga 2 September
BMKG juga memperkirakan bahwa potensi peningkatan hujan sedang dapat terjadi secara lokal di beberapa wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Kalimantan Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan. Di wilayah Sumatera Barat, terdapat potensi siaga hujan lebat.
Sementara itu, beberapa daerah lainnya berpotensi mengalami angin kencang, seperti Aceh, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan Papua Selatan.
Durasi Musim Kemarau 2026
BMKG mengungkapkan bahwa sebagian besar wilayah di Indonesia telah mencapai puncak kemarau pada Agustus 2026. Namun, banyak daerah diperkirakan akan terus mengalami kemarau hingga bulan Oktober-November 2026.
Panjang musim kemarau ini dipengaruhi oleh fenomena El Niño. "BMKG memprediksi fenomena El Niño akan terus bertahan hingga awal tahun 2027 dengan peluang intensitas mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode musim kemarau hingga pertengahan bulan Oktober," jelas Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.