Fakta Nasional

Kondisi Memprihatinkan di Kapal Induk USS Abraham Lincoln

Kapal induk USS Abraham Lincoln mengalami masalah serius di tengah penugasan yang berkepanjangan, termasuk laporan tentang bunuh diri dan kekurangan pasokan. Komando militer AS membantah klaim mengena...

D
Dila Rakasiwi
14 August 2026
31 pembaca
USS Abraham Lincoln (Foto: K.C. Alfred/The San Diego Union-Tribune via AP)
USS Abraham Lincoln (Foto: K.C. Alfred/The San Diego Union-Tribune via AP)

Jakarta - Para pelaut di kapal induk USS Abraham Lincoln yang beroperasi untuk Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan mental yang tinggi setelah berbulan-bulan bertugas di laut, terutama di tengah konflik yang berkepanjangan dengan Iran. Setidaknya dua pelaut dilaporkan berusaha bunuh diri dengan melompat ke laut, meskipun tindakan tersebut berhasil dicegah. Selain itu, satu anggota awak kapal juga dilaporkan jatuh ke laut namun berhasil diselamatkan.

Selama penugasan yang berkepanjangan, para pelaut menghadapi berbagai masalah, termasuk kekurangan pasokan dasar, masalah sanitasi, gangguan dalam pengiriman surat, serta penjatahan makanan yang ketat. Terdapat pula laporan mengenai tujuh pelaut yang terlibat dalam perkelahian di atas kapal, namun informasi ini dibantah oleh Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) yang bertanggung jawab atas wilayah Timur Tengah.

Bantahan dari Komando Militer AS

Bantahan tersebut diungkapkan melalui unggahan di media sosial X, yang dilansir oleh media CGTN pada Jumat (14/8/2026). Dalam pernyataan tersebut, CENTCOM menyebutkan, "Selama 48 jam terakhir, berbagai media telah melaporkan beberapa klaim palsu terkait penempatan USS Abraham Lincoln (CVN 72) ke Timur Tengah. Satu laporan menuduh tujuh pelaut tewas dalam perkelahian di atas kapal induk dan laporan lain baru-baru ini, menyebutkan adanya peningkatan niat bunuh diri. Laporan-laporan ini SALAH."

Selain itu, CENTCOM menegaskan bahwa USS Abraham Lincoln memiliki salah satu tingkat perpanjangan masa tugas awak kapal tertinggi (84,4%) di antara semua kapal induk Angkatan Laut AS. "Para pelaut dan marinir dari Gugus Tempur Kapal Induk Abraham Lincoln tetap tangguh dan gigih setelah lebih dari 260 hari di laut, 10.000 penerbangan pesawat, dan 1,5 juta pon amunisi yang digunakan," tambah pernyataan tersebut.

Peristiwa Kerusuhan di Kapal

Meski tidak ada personel militer yang tewas, CENTCOM mengakui bahwa satu pelaut jatuh ke laut pada 3 Agustus dan berhasil diselamatkan dengan cepat dan aman. "Pemberitaan yang salah tentang penempatan bersejarah Abraham Lincoln merugikan para prajurit kita dan orang-orang yang mereka cintai," imbuh CENTCOM. Insiden ini terjadi saat penasihat kepala CENTCOM, Brad Cooper, mengunjungi para pelaut dan marinir untuk menanggapi keluhan keluarga mereka mengenai masa tugas yang terlalu lama. Dalam kunjungan tersebut, Cooper dilaporkan menghadapi protes dari para pelaut yang mencemooh dan melemparkan botol, yang kemudian berujung pada kerusuhan.

Setelah insiden tersebut, AS mengerahkan kapal induk USS George Washington ke perairan Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln yang telah menjalani misi panjang. Pengerahan ini bertujuan untuk memberikan istirahat bagi para awak kapal yang telah bertugas dalam waktu yang lama. USS George Washington, yang berbasis di Pasifik, mulai bergerak menuju kawasan Timur Tengah dan telah terlihat berlayar melintasi Selat Singapura.

Seorang pejabat Angkatan Laut AS mengonfirmasi bahwa USS George Washington saat ini berada di Selat Malaka, yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, menandakan bahwa kapal tersebut sedang dalam perjalanan menuju Samudra Hindia.

Panggilan untuk Tindakan

Di tengah situasi ini, Pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer, menyerukan pemecatan Menteri Pertahanan Pete Hegseth, yang dianggapnya tidak kompeten. "Ketika Pete Hegseth dinominasikan, semua orang tahu dia sama sekali tidak kompeten," tulis Schumer dalam unggahannya di media sosial X. "Sekarang para pelaut pemberani kita membayar harganya dengan cara yang mengerikan dan tak terbayangkan. Pete Hegseth harus segera dipecat," tambahnya.

Beberapa anggota Kongres dari Partai Demokrat juga mendesak diadakannya penyelidikan terkait kondisi di atas kapal induk USS Abraham Lincoln, yang telah menjadi salah satu kapal induk canggih yang dikerahkan selama konflik dengan Iran. Laporan mengenai kekurangan makanan, kerusakan pipa, dan krisis kesehatan mental selama penugasan yang panjang ini semakin memperkuat seruan untuk tindakan lebih lanjut.

Artikel Terkait