Fakta Nasional

Kondisi Mengerikan di Timur Tengah Akibat Serangan Houthi ke Arab Saudi

Ketegangan di Timur Tengah semakin meningkat setelah serangan Houthi terhadap Arab Saudi, di tengah konflik yang belum usai di Gaza dan Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut...

P
Padma Dewi
07 August 2026
30 pembaca
Ilustrasi pasukan Houthi. (IRAN-CRISIS/YEMEN-SAUDI)
Ilustrasi pasukan Houthi. (IRAN-CRISIS/YEMEN-SAUDI)

Sanaa - Ketegangan di kawasan Asia Barat, yang sering disebut Timur Tengah, semakin meningkat. Di tengah konflik yang belum mereda di Gaza dan Iran, serangan Houthi ke wilayah Arab Saudi menambah ketegangan yang ada. Berdasarkan laporan yang dirangkum, situasi ini semakin memburuk setelah serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026, yang kemudian direspons oleh Iran dengan meluncurkan serangan ke fasilitas-fasilitas AS di negara-negara Teluk.

Pada Kamis (6/8), informasi muncul mengenai persiapan Iran dan kelompok proksinya untuk menyerang Arab Saudi. Kabar tersebut dilaporkan oleh Al Arabiya yang mengutip sumber senior dari Arab Saudi. Sumber tersebut menyatakan bahwa 'sejumlah laporan intelijen yang kredibel' menunjukkan adanya koordinasi antara kelompok Houthi yang berbasis di Yaman, milisi-milisi Irak yang didukung oleh Iran, dan IRGC dalam mempersiapkan serangan terhadap Saudi. Laporan ini sangat mengkhawatirkan, terutama karena muncul saat Saudi tengah berupaya mendorong perdamaian di Timur Tengah melalui negosiasi yang menunjukkan kemajuan.

Respons Saudi terhadap Ancaman Serangan

Arab Saudi dilaporkan tidak akan ragu untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk merespons setiap bentuk agresi. Informasi ini muncul setelah sumber-sumber dari Irak mengungkapkan bahwa mereka memiliki indikasi adanya niat dari faksi-faksi bersenjata untuk melancarkan serangan drone terhadap 'negara-negara tetangga dalam waktu 48 jam'. Sumber senior dari Saudi menambahkan bahwa serangan tersebut dapat menargetkan fasilitas sipil dan energi, termasuk infrastruktur vital, bandara, dan pelabuhan. Beberapa informasi intelijen juga mencakup pemantauan terhadap pemindahan posisi rudal dan drone sebagai persiapan untuk kemungkinan serangan serentak.

Saudi merupakan salah satu sekutu utama AS di Timur Tengah, dan hubungan antara kedua negara tetap 'sangat kuat' di semua tingkatan, termasuk di bidang militer.

Serangan Houthi yang Mengakibatkan Korban

Setelah informasi mengenai ancaman tersebut, Houthi benar-benar melancarkan serangan ke Arab Saudi. Kelompok pemberontak ini menyerang wilayah selatan Saudi, yang mengakibatkan 11 orang terluka. Ini menjadi jumlah korban terbanyak di Saudi selama lebih dari empat tahun konflik dengan Houthi. Houthi, yang didukung oleh Iran, telah meningkatkan serangan terhadap Saudi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional sejak bulan lalu. Serangan ini diklaim sebagai dukungan Houthi untuk Iran yang terlibat dalam konflik melawan AS.

Juru bicara koalisi pimpinan Saudi untuk memerangi Houthi, Jenderal Turki al-Maliki, mengonfirmasi bahwa serangan tersebut terjadi pada Kamis (6/8) malam. Korban yang terluka terdiri dari tujuh warga Saudi, dua warga Mesir, satu warga Yaman, dan satu warga Pakistan. Serangan yang menyebabkan korban tersebut terjadi di wilayah Najran, yang berbatasan langsung dengan Yaman.

Saudi telah memimpin koalisi militer yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam melawan Houthi sejak tahun 2015. Konflik di Yaman sendiri telah berlangsung lebih dari 11 tahun, melibatkan pasukan pemerintah yang didukung oleh koalisi pimpinan Saudi dan kelompok Houthi yang didukung oleh Iran. Houthi saat ini masih menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, serta wilayah-strategis lainnya di negara tersebut. Meskipun situasi pertempuran di Yaman relatif mereda sejak April 2022 setelah adanya gencatan senjata, Houthi kembali aktif melancarkan serangan yang menargetkan Saudi seiring dengan meluasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS dan Iran.

Serangan terbaru juga terjadi setelah penerbangan langsung dari Iran mendarat di Sanaa yang dikuasai oleh Houthi, yang memicu reaksi keras dari koalisi Saudi. Houthi juga mengumumkan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Saudi. Pada hari yang sama, Houthi meluncurkan serangan di Yaman yang menewaskan sedikitnya 58 tentara pemerintah Yaman. Serangan rudal dan drone tersebut menargetkan posisi-posisi militer di wilayah tengah dan timur Yaman. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa serangan ini ditujukan untuk merespons peningkatan kekuatan militer yang didukung oleh Saudi, dan melibatkan sejumlah besar rudal balistik dan drone. Kementerian Pertahanan Yaman berjanji untuk membalas serangan Houthi 'pada tempat dan waktu yang tepat'.

Artikel Terkait