Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah sempat mereda selama sebulan. Kedua negara kini terlibat dalam serangkaian serangan yang saling membalas. Eskalasi terbaru dimulai ketika militer AS melancarkan serangan ke Pulau Larak yang terletak dekat Selat Hormuz pada Senin (31/8), yang menjadi serangan pertama dalam sebulan terakhir.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rudal ke pangkalan militer AS yang berada di Yordania. Kini, AS melaksanakan operasi baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya di Iran.
Operasi 'Tanker for Tanker'
Pada Selasa (1/9), militer AS menyerang dua kapal tanker milik pemerintah Iran sebagai bagian dari serangkaian serangan yang lebih luas terhadap Teheran. Kedua kapal tanker tersebut dilaporkan sedang berlabuh di lepas pantai Iran saat diserang. Penargetan kapal tanker ini merupakan bagian dari kebijakan baru yang disebut "tanker for tanker," yang disetujui oleh Presiden AS Donald Trump.
Menurut laporan yang disampaikan oleh media Axios, yang mengutip beberapa sumber pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, serangan ini menandai pertama kalinya AS menargetkan kapal tanker Iran sebagai respons terhadap serangan di Selat Hormuz, bukan sebagai tindakan pencegahan terhadap pelanggaran blokade angkatan laut AS.
Serangan Terhadap Target Iran
Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting untuk pasokan minyak dan gas global, menjadi titik perselisihan terbaru antara Washington dan Teheran. Kedua negara saling berebut kendali atas jalur perairan strategis ini, yang sebagian besar diblokade sejak perang berlangsung sejak akhir Februari lalu.
Seorang pejabat AS yang dikutip oleh Axios menyatakan bahwa operasi yang menargetkan kapal tanker pemerintah Iran adalah bagian dari kebijakan baru "tanker for tanker" untuk mencegah serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Menurut keterangan pejabat AS, sejumlah drone tempur AS meluncurkan rudal yang menghantam ruang mesin kedua kapal tanker Iran tersebut. Serangan dilakukan saat kedua kapal tanker berlabuh di lepas pantai Iran, tepatnya di utara garis blokade angkatan laut AS. Sekitar 100 target Iran telah diserang pada hari yang sama, termasuk lokasi pertahanan udara, sistem radar, dan peluncur rudal milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Komando Pusat AS atau CENTCOM, yang bertanggung jawab atas operasi militer di Timur Tengah, telah mengonfirmasi bahwa serangan terbaru ini menargetkan unit-unit IRGC yang dianggap mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz. Axios juga melaporkan bahwa serangan ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mencegah Iran membangun kembali kemampuan yang digunakan untuk mengganggu pelayaran.
Seorang pejabat AS menambahkan bahwa serangan ini akan melemahkan kemampuan Iran dan "memberikan waktu setidaknya satu bulan" dengan tingkat ancaman yang lebih rendah bagi kapal-kapal komersial.