Fakta Ekonomi

Kualitas Pertumbuhan dan Transformasi Kunci Ketahanan Sektor Keuangan

Industri keuangan di Indonesia menunjukkan fundamental yang kuat meskipun menghadapi tantangan global. Perlu adanya transformasi untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah perubahan yan...

W
Wira Yudha
01 July 2026
48 pembaca
Foto: Bank Jakarta
Foto: Bank Jakarta

Industri keuangan di tanah air masih memiliki dasar yang kokoh meskipun terdapat ketidakpastian dalam perekonomian global. Namun, perubahan dalam lanskap bisnis dan perilaku investor mengharuskan pelaku industri untuk mempercepat proses transformasi agar dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Agus H Widodo, Direktur Utama Bank Jakarta, menyatakan bahwa kondisi fundamental perbankan nasional tetap terjaga. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit yang positif, permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang masih rendah. "Persoalannya sebenarnya bukan di fundamentalnya, tetapi medan permainannya berubah," ungkap Agus dalam diskusi bertajuk Shaping the Next Era of Indonesia's Capital Market pada Investor Day 2026 yang berlangsung di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Selasa (30/6/2026).

Tantangan yang Dihadapi Sektor Perbankan

Agus menjelaskan bahwa industri perbankan menghadapi berbagai tantangan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari pandemi Covid-19, konflik geopolitik, hingga perubahan dalam kebijakan perdagangan global. Situasi ini membuat perbankan tidak dapat lagi menerapkan strategi bisnis seperti yang dilakukan sebelumnya.

Ia juga menyoroti meningkatnya tekanan terhadap biaya dana (cost of fund). Agus mengungkapkan bahwa bunga deposito dalam lelang dana antarbank pernah mencapai 11,5 persen, yang menjadi indikasi kenaikan biaya penghimpunan dana bagi industri perbankan. Dalam menghadapi kondisi ini, Bank Jakarta melakukan transformasi di berbagai aspek bisnis, termasuk penguatan model bisnis, digitalisasi layanan, manajemen risiko, serta budaya kerja perusahaan.

Transformasi Digital dan Penguatan Ekosistem

Bank Jakarta, yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, juga berupaya mengembangkan bisnis melalui penguatan ekosistem pemerintah daerah. Agus menambahkan bahwa perputaran anggaran di lingkungan Pemprov DKI Jakarta menjadi salah satu potensi yang dapat mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan. Selain itu, Bank Jakarta mempercepat transformasi digital melalui pembaruan infrastruktur teknologi, pengembangan aplikasi, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

Penguatan manajemen risiko juga menjadi fokus utama. Agus menekankan bahwa risiko yang dihadapi oleh industri perbankan kini semakin beragam, tidak hanya risiko kredit, tetapi juga ancaman keamanan siber. "Risiko ke depan itu akan semakin multidimensi," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Jeffry Hendrik, Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, menekankan pentingnya meningkatkan kualitas investor untuk mendukung pendalaman pasar modal Indonesia. Bersama Otoritas Jasa Keuangan dan self-regulatory organization (SRO), BEI terus mendorong peningkatan transparansi pasar, penyediaan data investor yang lebih rinci, serta penguatan keterbukaan informasi kepada publik. "Kami yakin dengan transparansi yang lebih baik, tentu akan ada trust yang lebih tinggi," kata Jeffry.

Ia juga mengungkapkan bahwa jumlah investor domestik telah melampaui angka 28 juta. Namun, peningkatan jumlah investor harus diimbangi dengan peningkatan kualitas agar dapat menjadi fondasi yang kuat bagi pasar modal. Jeffry berpendapat bahwa investor perlu memiliki literasi keuangan dan kemampuan analisis yang memadai sehingga tidak hanya mengikuti tren pasar. "Mampu melakukan analisis, tidak hanya ikut-ikutan apa kata influencer, tidak FOMO," ujarnya.

Pernyataan ini sejalan dengan strategi Bank Jakarta yang lebih memilih untuk fokus pada pertumbuhan yang sehat dan berkualitas daripada mengejar ekspansi secara agresif. "Kita enggak kejar-kejaran nyari pertumbuhan besar, tetapi yang kita kejar adalah pertumbuhan yang sehat dan berkualitas," jelas Agus. Baik sektor perbankan maupun pasar modal sepakat bahwa transformasi digital, penguatan tata kelola, transparansi, serta peningkatan literasi keuangan akan menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan industri keuangan di tengah perubahan yang semakin cepat.

Artikel Terkait