Jakarta - Irsyad Zamjani, PhD, yang menjabat sebagai Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menekankan bahwa pendidikan holistik tidak hanya berfokus pada keunggulan akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa. Menurutnya, pendekatan ini telah diterapkan di pesantren selama bertahun-tahun.
Dalam pandangannya, praktik pendidikan Islam yang holistik di pesantren sejalan dengan upaya di sekolah-sekolah untuk merancang aktivitas kokurikuler dan ekstrakurikuler yang bertujuan membentuk karakter siswa secara sistematis. "Kebijakan nasional berusaha untuk mencapai apa yang telah diketahui pesantren ratusan tahun yang lalu," ungkap Irsyad pada Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 yang berlangsung di Borobudur Hotel Jakarta pada hari Sabtu, 5 September 2026.
Konsep Pembelajaran Mendalam
Irsyad, yang merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor, menjelaskan bahwa Kemendikdasmen telah memperkenalkan konsep pembelajaran mendalam (deep learning) yang berlandaskan pada prinsip pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning), pembelajaran yang berkesadaran (mindful learning), serta pembelajaran yang bermakna (meaningful learning). "Mindful learning, yang mana tidak hanya disampaikan pada pelajar di ruang kelas, tetapi mereka juga memahami sudah sampai mana tahap pengetahuan yang ia capai, mengapa ia mempelajarinya, atau reflektif," tuturnya.
Dimensi Profil Lulusan
Lebih lanjut, Irsyad menjelaskan bahwa ada delapan dimensi yang harus dikuasai oleh siswa di setiap akhir jenjang pendidikan, yaitu keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Pondok Modern Darussalam Gontor, yang baru saja merayakan ulang tahun ke-100, mengutamakan nilai-nilai seperti berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas (independent mind).
Menurut Irsyad, nilai-nilai tersebut menjadi pilar dalam pendidikan holistik sehari-hari di pesantren yang berkontribusi pada pembentukan karakter santri. Ia memberikan contoh bagaimana pendidikan karakter diintegrasikan dalam rutinitas harian santri, seperti menunggu waktu Subuh, antre untuk wudu, dan disiplin dalam pola makan di asrama. Selain itu, santri juga belajar bekerja sama melalui berbagai kegiatan selama Ramadan, pertunjukan, klub olahraga, hingga pembelajaran bahasa.
Pengayaan pengetahuan yang diberikan oleh para guru juga memastikan bahwa santri tetap mendapatkan layanan akademis yang memadai. Namun, Irsyad menekankan bahwa pengajaran kini tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada bagaimana karakter santri berkembang ketika mereka diberikan akses pada pengetahuan.
Dengan penguatan aspek budi, fisik, dan pengetahuan, Irsyad percaya bahwa santri dapat menjadi pemikir yang mandiri, memiliki kapasitas untuk berpikir tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk isu-isu yang lebih luas.