Jakarta, CNN Indonesia -- Panitia penyelenggara sidang tahunan MPR telah memastikan bahwa mereka telah melakukan evaluasi terkait pemutaran lagu-lagu selama acara untuk menghindari terulangnya aksi joget peserta pada 14 Agustus mendatang. Mahyu Darma, Kepala Biro Protokol, Humas, dan Media Sekretariat Jenderal DPD RI, menyatakan bahwa mereka tidak ingin insiden joget tersebut kembali terjadi dan memicu reaksi negatif dari masyarakat.
"Kami sudah mengevaluasi, mungkin tidak kita lakukan [putar lagu-lagu memancing joget], gitu, sebenarnya, bukan ya, memang karena lagunya itu ya yang membawa, tapi kami juga menyadari, dan kita terus-menerus evaluasi," ujar Mahyu di kompleks parlemen pada Rabu (12/8).
Prioritas Lagu Nasional dan Daerah
Mahyu menjelaskan bahwa lagu-lagu yang akan diputar selama acara akan difokuskan pada lagu-lagu nasional dan daerah. Namun, pemutaran lagu tersebut akan dilakukan di luar jadwal acara yang telah ditentukan.
"Nah, ini yang kita ini, sehingga, itu evaluasi kami, sehingga acara tersebut hikmat, hikmat terhadap pelaksanaannya semua," tambahnya.
Kesederhanaan Dekorasi
Di samping itu, Mahyu juga menyebutkan bahwa dekorasi gedung untuk sidang tahunan akan dibuat dengan sederhana. Ia berharap agar sidang tahunan MPR kali ini tetap dapat memberikan kesan yang baik.
"Karena kondisi Indonesia ini juga kita tidak seperti dulu-dulu, dan memang ini, pada saat ini, kan kita menginginkan bagaimana dekorasi ini tetap bagus tapi sederhana," ungkapnya.
Ketua DPR RI, Puan Maharani, juga menegaskan bahwa pelaksanaan sidang tahunan MPR 2026 akan berlangsung dengan lebih khidmat. Ia menyebutkan bahwa pihaknya telah melakukan introspeksi dan akan lebih fokus dalam mengikuti agenda kenegaraan tersebut.
"Jadi insyaallah nanti pada hari H kami semua akan tentu saja akan lebih introspeksi, lebih khidmat, akan lebih bisa menjaga diri kami untuk bisa lebih fokus dalam mengikuti acara kenegaraan tersebut," kata Puan setelah meninjau persiapan sidang di kompleks parlemen.
Walaupun demikian, Puan menilai masyarakat seharusnya merayakan dan bersuka cita menyambut hari kemerdekaan RI yang telah mencapai usia ke-81. Ia menjelaskan bahwa aksi joget pada Sidang Tahunan MPR 2025 yang kemudian memicu demonstrasi besar-besaran terjadi secara spontan karena suasana yang ceria. Meskipun begitu, semua peserta tetap khidmat mengikuti sidang dan pidato Presiden.
"Hanya saat kemudian mendengarkan lagu di saat penyampaian pidatonya sudah selesai, ya itu karena spontan. Jadi tidak ada hal yang kemudian membuat kami sepertinya tidak menghargai," jelasnya.
Sebelumnya, perilaku anggota DPR yang berjoget saat Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD menjadi perhatian publik. Ratusan legislator di Senayan terlihat berjoget mengikuti iringan lagu daerah, Sajojo dan Fa Mi Re, di sesi penutupan sidang yang berlangsung pada Jumat, 15 Agustus 2025.
Akibat insiden joget dan pernyataan kontroversial, lima anggota DPR dinonaktifkan, termasuk Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari Fraksi NasDem, Wakil Ketua DPR RI, Adies Kadir dari Fraksi Golkar, Surya Utama atau Uya Kuya, serta Eko Patrio dari Fraksi PAN. Namun, kelima anggota tersebut kini telah kembali aktif di DPR RI.