Jakarta - Banyak anak yang mendapatkan makanan tiga kali sehari, namun sering kali makanan tersebut tidak bergizi dan mengandung banyak junk food. Makanan ini cenderung rendah nutrisi, serat, vitamin, dan mineral, serta tinggi kalori, gula, garam, dan lemak. Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan anak-anak tentang pemilihan makanan yang sehat di sekolah.
Dalam konteks ini, guru yang memberikan pendidikan gizi telah mendapatkan pendampingan yang didasarkan pada penelitian dan publikasi. Pernyataan ini disampaikan oleh Prof Dr dr Rini Sekartini, SpA(K), sebagai Direktur Pusat SEAMEO Regional Centre for Food and Nutrition (RECFON) pada acara perayaan 10 tahun program Nutrition Goes to School (NGTS) di Plaza Insan Berprestasi, Jakarta, pada Minggu (23/8/2026). Program NGTS ini melibatkan 2.400 sekolah dalam upaya edukasi dan praktik baik gizi.
Pentingnya Edukasi Gizi di Sekolah
"Ya, (makan junk food ini karena pemilihan. Tadi sudah diedukasi, tapi kan harus diterapkan, jadi pemilihan makanan itu sesuai dengan kebutuhan anak. Jadi anak SD dan SMP-SMA berbeda-beda. Jadi kalorinya juga harus begitu, nilai karbohidrat, protein, kemudian vitamin A juga harus cukup, sesuai dengan Isi Piringku," kata Rini.
Isi Piringku adalah panduan dari Kementerian Kesehatan mengenai porsi makanan yang seimbang. Dalam panduan ini, satu piring dibagi menjadi dua bagian utama: setengah piring untuk sayur dan buah, dan setengah piring lainnya untuk makanan pokok serta lauk pauk. Makanan pokok mengisi sekitar dua pertiga dari setengah bagian piring, sementara lauk pauk mengisi sepertiga bagian piring sebagai sumber protein hewani atau nabati. Sayuran dan buah juga memiliki proporsi masing-masing yang penting untuk kesehatan.
Peran Anak dalam Menerapkan Gizi Sehat
Dengan memahami Isi Piringku dan menerapkannya di sekolah, anak-anak diharapkan dapat membawa pengetahuan tersebut ke rumah. "Itu (Isi Piringku) memang sudah sering terdengar, tapi praktiknya yang kurang. Jadi mungkin dengan anak yang sudah mengetahui dengan baik, dia akan bawa keluar, jadi mungkin bisa memberikan masukan kepada keluarga untuk praktik pemilihan, bahkan makanan dan jenis makanan yang baik untuk dikonsumsi," tambah Rini.
Anggota Dewan Wali Amanat SEAMEO RECFON dan Direktur SD Kemendikdasmen, Moch Salim Somad, menekankan bahwa pola makan sehat dan bergizi adalah bagian dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Namun, tantangan dalam memilih makanan yang sehat dan bergizi masih ada. "Ketika berbicara terkait 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, misalnya, itu kan di samping ada yang kekurangan gizi, tadi tantangannya, ada juga yang kelebihan gizi. Makanannya cukup, tapi geraknya kurang, maka perlu olahraga. Dan juga memilih makanan-makanan yang memastikan, tidak tinggi gula, kemudian MSG, dan lain-lain. Saya kira ini bagian yang paling penting untuk memastikan gizi mikro juga menjadi lebih optimal," ujarnya.
Salim menambahkan, "Jadi makanannya sebenarnya terpenuhi, tetapi kan milihnya (belum terpenuhi)." Dengan demikian, penting untuk terus mendorong anak-anak agar lebih sadar akan pentingnya memilih makanan yang sehat dan bergizi.