Gunung Anak Krakatau kembali memuntahkan abu vulkanik setelah erupsi yang terjadi pada Jumat, 4 September 2026. Akibat tiupan angin, abu vulkanik tersebut menyebar ke berbagai daerah, termasuk Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Abu vulkanik ini memiliki karakteristik yang berbeda dan lebih berbahaya dibandingkan debu biasa.
Bahaya yang Terkandung dalam Abu Vulkanik
Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa abu vulkanik mengandung silika, yaitu partikel kaca tajam yang dapat menyebabkan kerusakan. "Abu vulkanik ini sangat berbeda jauh dengan abu ataupun debu biasa karena ini mengandung silika yang seperti serpihan kaca yang tajam dan bisa merusak khususnya pada organ yang terkena antara lain mata, hidung, mulut, maupun kulit," ungkap Dicky.
Ketika terpapar abu vulkanik, mata dapat mengalami kemerahan, rasa perih, berair, serta sensitivitas terhadap cahaya, bahkan dapat menyebabkan luka gores. Di sisi lain, saluran pernapasan juga dapat terganggu, mengakibatkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, serta gejala seperti pilek, batuk kering, dan nyeri di dada jika terpapar dalam jumlah banyak.
Langkah Pencegahan dari Kementerian Kesehatan
Untuk mengurangi dampak dari paparan abu vulkanik, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat agar:
- Menghindari aktivitas di luar ruangan. Masyarakat disarankan untuk tetap berada di dalam rumah. Jika terpaksa harus keluar, penggunaan masker dan kacamata sangat dianjurkan.
- Jangan mengucek mata yang terkena debu. Jika mata sudah terpapar, Menteri Kesehatan menyarankan untuk membersihkannya dengan air dan, jika perlu, menggunakan obat tetes mata. "Semua puskesmas sudah kita siapkan untuk menangani kondisi tersebut," tambah Budi.
- Segera berkunjung ke puskesmas jika mengalami keluhan. Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan penyakit lainnya. Masyarakat disarankan untuk memeriksakan diri jika merasakan gejala yang mencurigakan.
Saat ini, Kementerian Kesehatan telah mengaktifkan Health Emergency Operating Center (HEOC) di tingkat pusat hingga daerah yang terkena dampak. Dinas Kesehatan di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat juga telah menyiapkan puskesmas dan rumah sakit yang beroperasi selama 24 jam.
Selain itu, Kementerian Kesehatan juga telah mendistribusikan logistik medis ke berbagai wilayah yang terdampak, termasuk masker medis, tabung oksigen, alat nebulizer, dan obat-obatan untuk penanganan ISPA serta perawatan mata dan kulit.