Fakta Pendidikan

Perjalanan Annita, Alumni FK UNS yang Berkontribusi di Daerah Terpencil

Annita Viesta Nirmala Dewi, seorang alumni dari Fakultas Kedokteran UNS, menjalani misi kesehatan selama 13 hari di beberapa pulau terpencil, memberikan pelayanan kesehatan dan edukasi kepada masyarak...

A
Agustinus Jaya Wiratama
05 August 2026
40 pembaca
Alumnus UNS Annita Viesta Nirmala Dewi mengikuti misi kesehatan di Kepulauan 3T. (Foto: UNS)
Alumnus UNS Annita Viesta Nirmala Dewi mengikuti misi kesehatan di Kepulauan 3T. (Foto: UNS)

Jakarta - Annita Viesta Nirmala Dewi, S Tr Keb, MPH, menempuh perjalanan panjang selama berjam-jam untuk mengikuti misi kesehatan bertajuk "Deteksi Dini dan Upaya Promotif, Preventif, dan Kuratif Menuju Pulau Sehat, Produktif, dan Bahagia". Bersama tim dari Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga, alumni Kebidanan Fakultas Kedokteran UNS ini melaksanakan misi selama 13 hari di Bluto, Pulau Raas, Pulau Karamian, dan Pulau Masalembu.

Setibanya di lokasi, tim menemukan bahwa beberapa pulau masih mengalami kesulitan dalam akses air bersih. Selain itu, pasokan listrik hanya tersedia pada malam hari berkat bantuan generator diesel. Meskipun dalam kondisi yang terbatas, masyarakat setempat menyambut kedatangan tim dengan penuh antusias.

Pelayanan Kesehatan dan Edukasi

Tim dari Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga memberikan pelayanan kesehatan kepada sekitar 120 hingga 160 pasien di setiap lokasi. Annita berperan dalam proses triase serta pengukuran antropometri untuk mendukung kelancaran pelayanan yang diberikan.

Selain itu, tim juga melakukan edukasi kesehatan kepada 410 remaja, yang terdiri dari 130 peserta di Bluto, 140 peserta di Pulau Raas, 80 peserta di Pulau Karamian, dan 60 peserta di Pulau Masalembu. "Saya percaya bahwa remaja harus dijaga agar terus berdaya dan sejahtera, sebab mereka merupakan tonggak keberlangsungan suatu bangsa," ungkap Annita dalam sebuah wawancara.

Pengalaman Berharga di Setiap Pulau

Menurut Annita, setiap pulau memberikan pengalaman yang unik. Remaja di Pulau Raas cenderung lebih pendiam dibandingkan dengan remaja di Pulau Karamian yang lebih aktif dalam berdiskusi. Di Pulau Masalembu, beberapa peserta bahkan secara sukarela tampil dalam skenario role play. Perbedaan karakter ini membuat Annita menyadari pentingnya menyesuaikan metode edukasi dengan kondisi masyarakat setempat.

Hal yang paling berkesan bagi Annita adalah bertemu dengan remaja-remaja yang memiliki cita-cita besar. Banyak dari mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Antusiasme mereka saat berdiskusi, bertanya, dan mengikuti setiap sesi edukasi membuat Annita yakin bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bermimpi. "Saya belajar bahwa setiap daerah memiliki kebutuhan dan cara belajar yang berbeda. Ketika kita mau mendengarkan dan menyesuaikan pendekatan, pesan kesehatan menjadi lebih mudah diterima. Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa menjadi tenaga kesehatan bukan hanya tentang memberikan pelayanan, tetapi juga membangun kepercayaan dan tumbuh bersama masyarakat," tuturnya.

detik.com Sumber: detik.com

Artikel Terkait