Jakarta - Clarissa Aurelia Nahid Saputra, seorang gadis berprestasi dari Jakarta, menunjukkan pencapaian yang membanggakan dengan menempuh pendidikan di California, Amerika Serikat. Saat ini, ia terdaftar di University of California (UC) San Diego dan berhasil mendapatkan Beasiswa Garuda dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Di usia 19 tahun, Clarissa tidak hanya fokus pada studi, tetapi juga telah mendirikan sebuah startup di Silicon Valley, yang dikenal sebagai pusat industri teknologi dengan persaingan yang sangat ketat.
Diterima di 14 Kampus Internasional
Sebelum memutuskan untuk berkuliah di UC San Diego, Clarissa sempat ditawari untuk bergabung dengan 13 kampus luar negeri lainnya, termasuk King's College London dan UC Davis. "Aku kemarin dapat 14 kampus di luar negeri dan beberapa kampus yang aku ingat sekarang itu ada NUS, NTU, UIUC, UCSD, UC Davis, dan yang lainnya itu kayak dari UK itu ada Edinburgh, ada King's College London, dan banyak lagi gitu across the United States," ungkap Clarissa saat ditemui di FX Sudirman, Jakarta Pusat.
Clarissa telah merencanakan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri sejak masa SMA di MH Thamrin, di mana ia berhasil mendapatkan banyak tawaran dari kampus top berkat prestasinya. "Jadi untuk mendapatkan LoA itu aku itu kemarin juga ikut International Physics Olympiad, Physics Olympiad, dan juga aku dulu menjadi wakil ketua OSIS di SMA aku," tambahnya.
Akhirnya, ia memilih UC San Diego karena ekosistem robotik yang kuat di kampus tersebut. "Aku pilih UC San Diego karena UC San Diego itu sangat bagus robotiknya. Kayak the main robotics simulators gitu itu dari San Diego. Dan selain itu UC San Diego itu ada di California dan California itu banyak banget startup culture-nya itu kayak sangat tinggi gitu," jelasnya.
Mendirikan Startup dan Mendapatkan Pendanaan
Di tahun pertamanya di UC San Diego, Clarissa berhasil mendirikan startup bernama CLEAN (ClaenLabs), yang berhasil lolos ke Y Combinator, salah satu akselerator startup paling bergengsi di dunia. Awalnya, ia bersama rekan-rekannya sering mengikuti hackathon dan meraih banyak kemenangan, yang kemudian memudahkan mereka dalam mendapatkan pendanaan dari investor.
"Nah, dari hackathon itu kita dapat funding 50.000 dolar dari salah satu startup accelerator yang di San Francisco juga. Ya dari situ kita udah kayak buat-buat projeklah. Dan di summer ini kita itu juga membuat lebih banyak projek dan akhirnya kita itu di-back sama Y Combinator," tuturnya.
CLEAN merupakan startup B2B yang membantu perusahaan dalam mengoptimalkan proses penjualan melalui analisis sinyal data internet yang kompleks.
Tidak hanya fokus pada startup yang berbasis di AS, Clarissa juga mendirikan startup lain bernama Study Lanjut, yang ditujukan untuk membantu pelajar Indonesia meraih beasiswa. "Itu aku bikin sama teman-teman aku dari Berkeley, dari Kyoto, terus ada juga teman-teman yang sudah mengurusi kayak beasiswa-beasiswa gitu. Kita itu mulainya kayak sekitar September dan kita itu lebih fokus untuk kayak memberi teman-teman pelajar guidance untuk masuk luar negeri dan juga dapat beasiswa luar negeri," jelasnya.
Melalui platform ini, Clarissa ingin menularkan mentalitas independen dan kepercayaan diri kepada generasi muda di Indonesia. Ia percaya bahwa pelajar Indonesia memiliki potensi yang sama hebatnya dengan pelajar-pelajar di luar negeri.
Kisah inspiratif Clarissa dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus berusaha dan bermimpi besar. Mencapai kesuksesan di tingkat global bukanlah hal yang mustahil jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, seperti yang telah dibuktikan oleh Clarissa.