Fakta Politik

Prabowo Dapat Permintaan dari Presiden Korsel untuk Jembatani Dialog dengan Korea Utara

Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa Presiden Korea Selatan, Lee Jae-Myung, meminta bantuannya untuk membuka dialog dengan Korea Utara. Prabowo merasa terhormat dan siap menjalankan...

S
Stevani Nila Wardana
31 July 2026
43 pembaca
Presiden RI Prabowo Subianto saat menemui Presiden Korsel Lee Jae Myung di Blue House, Seoul beberapa waktu lalu. Laily Rachev - Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden
Presiden RI Prabowo Subianto saat menemui Presiden Korsel Lee Jae Myung di Blue House, Seoul beberapa waktu lalu. Laily Rachev - Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyatakan bahwa dirinya diminta oleh Presiden Korea Selatan, Lee Jae-Myung, untuk menjadi penghubung dalam dialog antara Seoul dan Pyongyang. Dalam kunjungannya ke Korea Selatan beberapa waktu lalu, Lee meminta Prabowo untuk berkunjung ke Korea Utara dan membuka jalur komunikasi antara kedua negara.

“Bahkan kunjungan saya terakhir di Korea, di Korea Selatan di Seoul, Presiden Korea Selatan, President Republic of Korea ya, minta kepada saya bisa enggak saya berkunjung ke Korea Utara untuk membuka semacam dialog,” ungkap Prabowo saat bertemu dengan Kadin di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (31/7).

Kesediaan Prabowo Menjadi Penghubung

Menanggapi permintaan tersebut, Prabowo merasa terhormat dan menyatakan kesiapannya untuk berperan sebagai penghubung antara kedua negara. Ia menegaskan bahwa hal ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang menganut kebijakan bebas dan aktif.

Prabowo menambahkan bahwa prinsip ini merupakan warisan terbaik dari para pendiri bangsa, yang memungkinkan Indonesia diterima oleh berbagai pihak di dunia. Ia menjelaskan bahwa Indonesia mampu menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat, sekaligus membangun kerjasama dengan China dan Rusia.

Relevansi Prinsip Bebas-Aktif di Tengah Ketidakpastian Global

Prabowo menekankan bahwa Indonesia tidak memiliki kepentingan untuk mencampuri urusan dalam negeri negara lain, dan prinsip bebas-aktif ini semakin relevan di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian. Ia mengingatkan bahwa meskipun konflik terjadi di berbagai belahan dunia, dampaknya tetap dapat dirasakan oleh Indonesia.

Ia menyatakan bahwa perang di satu wilayah dapat memberikan pengaruh yang luas, sehingga penting bagi Indonesia untuk tetap waspada dan berpegang pada prinsip-prinsip yang telah ditetapkan.

Artikel Terkait